Washington, Purna Warta – Menurut laporan pada Jumat, UNICEF menegaskan bahwa tidak ada zona aman bagi warga Palestina yang diperintahkan Israel untuk meninggalkan Kota Gaza. Daerah yang disebut sebagai “zona aman” di selatan justru digambarkan sebagai “perangkap maut.”
Baca juga: Miliarder AS Berupaya Membeli Jaringan Berita Besar demi Kepentingan Israel
UNICEF juga menyoroti penderitaan ibu-ibu dan bayi baru lahir di Gaza yang menghadapi kondisi darurat akibat minimnya peralatan medis, sementara Kompleks Medis Nasser di Gaza Selatan mengalami kepadatan pasien yang dipindahkan dari wilayah utara.
James Elder, juru bicara UNICEF, melalui sambungan video dari Gaza kepada wartawan di Jenewa mengatakan:
“Situasi ibu-ibu dan bayi yang baru lahir di Gaza tidak pernah seburuk sekarang. Di Kompleks Nasser, lorong-lorong rumah sakit penuh dengan perempuan yang baru melahirkan.”
Mengenai klaim Israel soal zona aman di Jalur Gaza, Elder menegaskan:
“Gagasan adanya zona aman di selatan adalah omong kosong, karena bom terus-menerus dijatuhkan dari langit, menakuti warga, menghantam dan menghancurkan sekolah-sekolah yang dijadikan tempat penampungan sementara, serta membakar tenda-tenda pengungsi melalui serangan udara.”
Sebelumnya, UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) juga melaporkan bahwa puluhan ribu warga Palestina terus dipaksa mengungsi berulang kali dengan biaya besar, sementara akses terhadap makanan dan air tetap sangat terbatas. Badan tersebut menyerukan gencatan senjata segera di Jalur Gaza untuk menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan secara aman.
Baca juga: Genosida AS–Israel di Gaza: Jumlah Korban Tewas Naik Jadi 66.225 Jiwa
Sejak 7 Oktober 2023, rezim Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat telah melakukan genosida di Gaza, menewaskan sedikitnya 66.225 orang dan melukai 168.938 lainnya. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, kelaparan yang dipicu blokade juga telah merenggut nyawa 455 warga Palestina, termasuk 151 anak-anak.


