Mengapa Perusahaan Israel “Teva” Menjadi Salah Satu Perusahaan Farmasi yang Paling Dibenci di Dunia

Teva

Washington, Purna Warta – Teva Pharmaceutical Industries, perusahaan farmasi raksasa Israel sekaligus produsen obat generik terbesar di dunia, dalam beberapa tahun terakhir menghadapi gelombang kemarahan publik. Perusahaan ini semakin dipandang sebagai simbol kontradiksi etika dalam industri farmasi. Meski Teva menampilkan diri sebagai pihak yang berkomitmen pada “kesehatan global,” praktik bisnisnya menuai kritik keras. Gelombang protes menjadikan Teva simbol korupsi dan pengabaian prinsip-prinsip kemanusiaan.

Baca juga: Institut Amerika–Zionis GHF: Kedok Kemanusiaan bagi Pembantaian Sistematis di Gaza

Keterlibatan perusahaan ini dalam kejahatan rezim Israel di perang Gaza serta ketidakpeduliannya terhadap krisis kemanusiaan telah memicu kemarahan global terhadap Teva. Banyak orang, termasuk dokter dan perawat, memboikot obat-obatan Teva dengan menuduh perusahaan itu ikut serta dalam pembunuhan anak-anak di Gaza.

Selama satu tahun terakhir, krisis kemanusiaan di Gaza mencapai puncaknya. Pembunuhan perempuan dan anak-anak Palestina oleh pasukan Israel menciptakan keadaan darurat yang akut. Kekurangan obat dan tenaga medis, disertai penghancuran fasilitas kesehatan, membuat hidup menjadi sangat sulit bagi banyak pasien Palestina, khususnya anak-anak, perempuan, dan penderita penyakit kronis.

Dalam konteks ini, Teva sebagai perusahaan farmasi diharapkan bersikap netral dan mendukung rakyat sipil Gaza. Namun, perusahaan justru tidak mengambil langkah apa pun untuk memfasilitasi akses obat-obatan penting. Pernyataannya hanya berfokus pada dukungan terhadap Israel serta pemenuhan kebutuhan domestik. Diam dan keberpihakannya, sementara anak-anak Palestina meninggal karena kekurangan obat, telah mencoreng citra perusahaan dengan parah.

Faktanya, Teva tidak mengambil langkah nyata untuk menyediakan obat-obatan esensial yang dibutuhkan warga Gaza, meski laporan PBB dan organisasi HAM independen berulang kali menegaskan bahwa ribuan anak di Gaza sangat membutuhkan obat-obatan penyelamat nyawa. Blokade komprehensif Israel mencegah pasokan vital tersebut mencapai orang-orang yang membutuhkan.

Di tengah situasi ini, pernyataan Teva tetap menekankan pada “dukungan untuk Israel” dan pemenuhan kebutuhan domestik. Sikap tersebut tidak hanya menunjukkan ketidakpedulian terang-terangan terhadap kematian ribuan anak tak berdosa, tetapi juga mengirimkan pesan berbahaya kepada komunitas internasional: bahwa produsen obat generik terbesar di dunia bersedia mengorbankan prinsip etika dan kemanusiaan demi kepentingan politik. Kebijakan ini terus berlanjut, dengan perusahaan farmasi Israel itu tetap mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan sambil mendukung kebijakan mematikan Israel.

Selain itu, laporan menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Teva memberikan dukungan langsung kepada militer Israel dan ikut serta dalam program bantuan terkait unit-unit militer. Hubungan erat ini, yang melanggar prinsip netralitas medis, telah merusak reputasi Teva secara parah. Akibatnya, perusahaan kini dipertanyakan tidak hanya di ranah politik tetapi juga secara etis.

Baca juga: Mesir dan Turki Melanjutkan Latihan Militer Setelah 13 Tahun, Interaksi Kairo dan Ankara Membuat Israel Khawatir

Tindakan Teva mendorong para dokter dan penasihat medis di berbagai negara, termasuk Irlandia, untuk menyerukan boikot terhadap obat-obatan perusahaan tersebut mulai 2025. Sanksi ini dipicu bukan hanya oleh keterlibatan Teva dalam kebijakan perang Israel, tetapi juga oleh pelanggaran standar etika dan profesional dalam industri farmasi. Puluhan dokter dan penasihat Irlandia mendesak pemerintah pada Agustus dan September 2025 untuk menghentikan penggunaan obat-obatan Israel, bahkan menekankan bahwa “obat-obatan Israel” tidak boleh diberikan kepada anak-anak sakit.

Di langkah lain, staf di Rumah Sakit Ortopedi Nasional Dublin secara resmi menyerukan boikot terhadap obat-obatan Teva. Selain itu, video yang menunjukkan dokter Italia membuang obat-obatan Teva ke tempat sampah telah menjadi simbol kemarahan publik yang meluas, sekaligus menyoroti kontradiksi perilaku sebuah perusahaan farmasi yang seharusnya menyelamatkan nyawa tetapi tetap bungkam di tengah bencana kemanusiaan.

Sebagai perusahaan Israel, Teva juga membayar sebagian besar pendapatannya sebagai pajak kepada pemerintah Israel. Pada 2024, perusahaan itu membayar pajak sebesar 750 juta dolar AS, yang oleh para pengkritik disebut sebagai “bahan bakar mesin perang.” Pembayaran ini terus berlanjut sementara Israel tetap melakukan tindakan yang secara luas dianggap sebagai genosida di Gaza.

Situasi ini telah memicu kemarahan publik terhadap Teva. Bagi banyak orang, perusahaan ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai perusahaan farmasi, melainkan simbol kerakusan yang tanpa belas kasih serta pengabaian terhadap hak asasi manusia. Diamnya Teva menghadapi bencana kemanusiaan di Gaza menjadi bukti bahwa mereka lebih mengutamakan keuntungan dibanding nyawa manusia—sebuah catatan kelam yang tak akan pernah dilupakan sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *