New York, Purna Warta – Jumlah mahasiswa asing di universitas Amerika Serikat menurun pada semester gugur tahun ini untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Penurunan tersebut terjadi di tengah kebijakan pengetatan visa dan perubahan arah kebijakan pendidikan tinggi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Data yang dirilis National Student Clearinghouse Research Center menunjukkan jumlah mahasiswa internasional berkurang hampir 5.000 orang, meskipun total pendaftaran mahasiswa di AS justru meningkat sekitar 1 persen. Penurunan paling tajam terjadi pada program pascasarjana, dengan jumlah mahasiswa asing turun 6 persen atau hampir 10.000 orang, setelah sebelumnya melonjak lebih dari 50 persen pada periode 2020–2024.
Penurunan ini menandai perubahan signifikan pola pendaftaran mahasiswa asing sekaligus menjadi tantangan finansial bagi banyak universitas AS. Kebijakan pemerintahan Trump, mulai dari larangan perjalanan, pengetatan pemeriksaan visa, hingga pencabutan ribuan visa pelajar, dinilai telah mengganggu jalur akademik yang selama ini menjadi sumber talenta dan pendapatan biaya kuliah bagi kampus-kampus tersebut.
Departemen Luar Negeri AS pekan ini mengumumkan pencabutan sekitar 8.000 visa pelajar sebagai bagian dari upaya “menjaga keamanan Amerika”. Langkah ini diperkuat dengan kebijakan lain seperti pajak dana abadi universitas dan pembekuan pendanaan federal, yang menjadi bagian dari perombakan besar sektor pendidikan tinggi.
Program Pascasarjana Paling Terpukul
Menurut laporan Bloomberg, Matthew Holsapple, Direktur Riset Senior di Clearinghouse, menyebut penurunan pendaftaran mahasiswa pascasarjana sebagai perubahan yang sangat kontras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menilai tren tersebut signifikan karena terjadi setelah periode pertumbuhan yang panjang dan kuat, sehingga menandai pergeseran besar dalam lanskap pendidikan tinggi Amerika Serikat.
Kampus Menengah Terdampak Paling Berat
Dampak kebijakan visa terasa paling kuat di universitas swasta dan institusi tingkat menengah. Lewis University, sebuah universitas swasta dekat Chicago, mengalami penurunan 37 persen mahasiswa internasional baru di program pascasarjana setelah proses visa sempat dihentikan selama musim panas. Kondisi ini memaksa kampus tersebut memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya.
DePaul University juga melaporkan penurunan tajam. Jumlah mahasiswa asing turun 755 orang dibandingkan semester gugur 2024, sementara mahasiswa pascasarjana baru dari luar negeri merosot hampir 62 persen. Pihak universitas menyebut tantangan visa dan menurunnya minat belajar di AS sebagai faktor utama, seraya mengakui bahwa penurunan sebesar itu tidak diantisipasi dalam perencanaan anggaran.
Kampus Elit Masih Bertahan
Berbeda dengan universitas menengah, sejumlah institusi elit tetap mampu menarik mahasiswa internasional. Harvard University, yang kerap menjadi sasaran kritik Trump, mencatat rekor jumlah mahasiswa asing pada tahun akademik ini. Pada semester gugur 2025, mahasiswa internasional mencakup 28 persen dari total mahasiswa, angka tertinggi setidaknya sejak 2002.
Bloomberg melaporkan bahwa konsultan pendidikan di India mencatat perubahan strategi calon mahasiswa. Banyak siswa kini hanya menargetkan universitas papan atas di AS karena meningkatnya risiko visa dan ketidakpastian masa depan. Akibatnya, jumlah lamaran per siswa meningkat, tetapi terbatas pada institusi paling kompetitif.
Pergeseran ke Jalur Pendidikan yang Lebih Fleksibel
Selain penurunan mahasiswa asing, data juga menunjukkan perubahan preferensi di kalangan mahasiswa secara umum. Pendaftaran pascasarjana di bidang ilmu komputer dan teknologi informasi—bidang yang populer di kalangan mahasiswa asing—turun 14 persen, penurunan pertama sejak 2020. Pendaftaran sarjana di bidang yang sama juga menyusut 3,6 persen.
Di sisi lain, mahasiswa tampak beralih ke jalur pendidikan yang lebih terjangkau dan fleksibel. Universitas swasta empat tahun mengalami penurunan pendaftaran 1,6 persen, sementara universitas negeri tumbuh 1,4 persen dan community college naik 3 persen. Program sertifikat dan gelar associate mencatat pertumbuhan lebih cepat dibandingkan program sarjana, mencerminkan minat yang meningkat pada jalur pendidikan jangka pendek yang lebih berorientasi pada karier.


