Laporan: Kebijakan Luar Negeri Trump Dinilai Hidupkan Kembali Imperialisme AS

Kebijakan Luar Negeri Trump Dinilai Hidupkan Kembali Imperialisme AS

New York, Purna Warta – Kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mencerminkan kebangkitan kembali praktik imperialisme, menurut laporan yang dikutip The Guardian. Pendekatan yang disebut sebagai doktrin “Donroe”—varian baru dari intervensi AS di Amerika Latin—dinilai tidak terbatas pada Belahan Barat semata, melainkan memiliki implikasi global yang menandai pergeseran tajam dari citra lama Amerika Serikat dalam hubungan internasional.

Sejumlah pakar memperingatkan bahwa arah baru filosofi politik Washington berpotensi membawa konsekuensi besar bagi tatanan dunia.

Profesor sejarah di Northwestern University, Illinois, Daniel Immerwahr, menyatakan bahwa Amerika Serikat pada dasarnya tidak pernah berhenti menjadi sebuah imperium. Ia menyoroti fakta bahwa AS masih memiliki lima wilayah yang tidak sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem politiknya, serta mengoperasikan sekitar 750 pangkalan militer di berbagai belahan dunia.

Namun, Immerwahr menilai bahwa selama ini AS mempertahankan citra sebagai negara yang berbeda dari kekuatan imperialis klasik. “Yang berubah sekarang adalah topeng itu telah dilepas,” ujarnya, merujuk pada gaya kebijakan luar negeri era Trump yang lebih terbuka dan koersif.

Direktur Institute of International Affairs Italia, Nathalie Tocci, menambahkan bahwa visi Trump terhadap tatanan global berpotensi membagi dunia ke dalam lingkup pengaruh antara Amerika Serikat dan kekuatan besar lain, khususnya China. Menurutnya, pendekatan semacam itu membawa risiko kembalinya pola “penundukan wilayah” yang mengingatkan pada era imperialisme klasik.

Meski demikian, mantan Direktur Dewan Keamanan Nasional AS untuk Urusan Rusia dan Eropa, Fiona Hill, menilai kebijakan tersebut tidak berarti Washington akan menarik diri dari kawasan di luar wilayah domestiknya. Ia menyebut kehadiran AS di kawasan Asia-Pasifik sangat mungkin tetap berlanjut.

Hill juga memperingatkan bahwa kembalinya pola tarik-menarik ala kekuatan besar lama meningkatkan risiko kesalahan kalkulasi antarnegara kunci. “Dalam kondisi seperti ini, dunia menjadi semakin rapuh,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *