Washington, Purna Warta – Seorang profesor ilmu politik terkemuka di Amerika Serikat menilai dampak negatif perang Iran terhadap berbagai aspek, termasuk hubungan internasional Amerika Serikat, kemunduran hegemoni globalnya, serta meningkatnya ketidakpercayaan terhadap Washington.
Menurut laporan Al Araby Al Jadid John Mearsheimer, ilmuwan politik Amerika dan profesor Universitas Chicago serta salah satu teoritikus politik modern paling berpengaruh, dalam wawancara dengan situs Al Araby Al Jadid membahas perang Amerika dan Israel terhadap Iran, motif di balik perang tersebut, serta hasil dan dampaknya, termasuk hubungan masa depan Washington dengan Tel Aviv, sekutu Eropa, dan Timur Tengah.
Ia menjawab bahwa dalam situasi apa pun, sangat jelas bahwa Iran telah memenangkan perang tersebut.
“Amerika menganggap Tel Aviv sebagai penyebab bencana”
Profesor tersebut mengatakan perang ini kemungkinan berdampak negatif pada hubungan Washington–Tel Aviv. Menurutnya, masyarakat Amerika akan menyadari bahwa negara mereka telah kalah dalam perang tersebut dan bahwa ini merupakan bencana besar. Mereka akan memahami bahwa Israel (Tel Aviv) menyeret Amerika ke dalam perang ini, dan Benjamin Netanyahu memainkan peran utama di dalamnya.
Mearsheimer menambahkan bahwa Donald Trump memulai perang ini demi Israel, dan hal ini dipahami luas oleh publik Amerika. Jika perang demi kepentingan Israel berakhir sebagai bencana, maka banyak warga Amerika akan menyalahkan Israel, yang pada akhirnya merusak hubungan kedua negara.
“Lobi pro-Israel tidak lagi dominan di opini publik”
Ia menyatakan bahwa kelompok lobi tetap beroperasi di dua level: elit politik dan pembentukan wacana publik. Namun, meskipun pengaruhnya terhadap politisi Amerika masih sangat kuat, pengaruhnya terhadap masyarakat dan elite intelektual semakin terbatas, bahkan cenderung negatif terhadap Israel.
Ia juga menyebut adanya penurunan signifikan dukungan terhadap Israel di opini publik Amerika, termasuk di kalangan evangelis Kristen dan pemilih Partai Republik di bawah usia 50 tahun, dan tren ini akan terus berlanjut.
“Amerika akan ragu untuk perang berikutnya”
Mearsheimer mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjadi jauh lebih berhati-hati untuk memasuki perang baru di Timur Tengah, mengingat pengalaman bencana di Afghanistan, Irak, dan kini Iran.
“Trump masuk perang karena Israel”
Ia menegaskan bahwa perang ini bukan untuk minyak atau kepentingan langsung Amerika, melainkan terkait perubahan rezim di Iran. Menurutnya, Netanyahu meyakinkan Trump bahwa kemenangan cepat mungkin dicapai, namun hal itu merupakan kesalahan besar.
Dampak global
Mearsheimer juga menilai perang ini memperburuk hubungan Amerika Serikat dengan Eropa dan NATO, serta merusak kepercayaan sekutu global terhadap Washington. Negara-negara Teluk, menurutnya, kini mulai meragukan keamanan di bawah payung Amerika setelah konflik ini berdampak luas pada stabilitas kawasan.
Ia menambahkan bahwa ke depan, tidak banyak negara yang akan bersedia bergantung pada perlindungan keamanan Amerika Serikat, karena Washington dianggap justru menjadi sumber instabilitas bagi sekutunya sendiri.


