London, Purna Warta – Menurut laporan Reuters, konflik militer di Iran telah menjadi tantangan besar bagi warisan politik Donald Trump dan sekaligus memuncakkan persaingan antara dua kandidat penerusnya, yaitu J.D. Vance dan Marco Rubio.
Kedua pejabat senior tersebut kini berada di tengah upaya negosiasi untuk mengakhiri perang yang juga menempatkan Partai Republik pada titik penentuan mengenai masa depan politik setelah era Trump.
Dalam sejumlah pertemuan pribadi dengan para sekutunya, presiden disebut mengajukan pertanyaan “J.D. atau Marco?” sebagai cara untuk menilai kemampuan kedua tokoh tersebut sebagai calon penerus pada tahun 2028.
Survei terbaru Reuters dan Ipsos menunjukkan bahwa tingkat popularitas Trump turun menjadi 36 persen, yang merupakan angka terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih.
Penurunan popularitas ini secara langsung dikaitkan dengan kenaikan harga bahan bakar serta meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap perang dengan Iran, yang memberikan tekanan tambahan terhadap pemerintah dan para sekutunya.
Di kalangan basis Partai Republik, sebanyak 79 persen anggota partai memiliki pandangan positif terhadap Vance dan 19 persen menyatakan sikap negatif terhadapnya. Sementara itu, Rubio memperoleh dukungan positif sebesar 71 persen dan penilaian negatif dari 15 persen responden.
Matt Schlapp, salah satu tokoh konservatif, menilai bahwa jika kampanye militer ini dianggap berhasil mencapai tujuannya, para pihak yang terlibat akan memperoleh keuntungan politik. Namun jika perang berlangsung lama, kondisi politik akan menjadi jauh lebih sulit.
Ron Bonjean, seorang ahli strategi Partai Republik, memperingatkan bahwa Trump memiliki ingatan politik yang panjang dan mungkin akan meminta pertanggungjawaban Vance karena dianggap tidak sepenuhnya menunjukkan loyalitas, yang berpotensi menghambat dukungan akhir presiden terhadapnya.
J.D. Vance, meskipun memiliki sejumlah perbedaan pandangan filosofis dengan Trump, tetap menegaskan dukungannya terhadap upaya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati terkait penempatan kekuatan militer di kawasan Teluk Persia.
Sebaliknya, Marco Rubio dengan tegas menyatakan dalam rapat kabinet bahwa presiden tidak akan pernah mengizinkan ancaman seperti program Iran di kawasan tersebut tetap berlangsung.
Para analis menilai bahwa berakhirnya perang secara cepat dan berhasil dapat memperkuat posisi Rubio sebagai seorang manajer krisis. Namun jika konflik berubah menjadi perang yang berkepanjangan dan melelahkan, hal itu justru dapat menguntungkan posisi anti-perang yang diusung Vance.


