Apple Akuisisi Perusahaan Pengawasan Israel yang “Tertutup” dalam Kesepakatan yang Tidak Diungkapkan

Aple

Washington, Purna Warta – Apple telah mengakuisisi perusahaan rintisan (startup) asal Israel, Q.ai, yang disebut memiliki teknologi pengenalan wajah serta kemampuan menganalisis “ucapan senyap” melalui ekspresi wajah yang sangat halus.

Baca juga: Korban Tewas akibat Serangan Israel di Seluruh Gaza Meningkat Menjadi 29 Sejak Dini Hari

Didirikan pada 2002 dan dilabeli sebagai perusahaan yang “tertutup” oleh Financial Times, Q.ai dilaporkan mengembangkan sistem yang mampu menafsirkan ucapan berbisik atau gerakan mulut tanpa suara dengan melacak pergerakan mikro pada kulit wajah.

Menurut sejumlah media, termasuk Reuters dan Financial Times, nilai kesepakatan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,5 hingga 2 miliar dolar AS. Namun demikian, Apple menolak mengungkapkan rincian finansial dari akuisisi tersebut.

Jika kesepakatan ini benar-benar rampung, akuisisi Q.ai akan menjadi yang terbesar kedua bagi Apple setelah pembelian Beats pada 2014. Sebagai bagian dari transaksi tersebut, para pendiri Q.ai—Aviad Maizels, Yonatan Wexler, dan Avi Barliya—akan bergabung dengan Apple.

Akuisisi ini memunculkan pertanyaan terkait pengawasan, pemantauan biometrik, dan pendeteksian emosi yang berpotensi tertanam langsung dalam perangkat konsumen. Teknologi Q.ai yang mampu menafsirkan sinyal seperti gerakan bibir, detak jantung, dan pernapasan telah memicu kekhawatiran para pegiat privasi mengenai perangkat yang dapat menyimpulkan apa yang dikatakan atau dirasakan pengguna tanpa adanya suara yang terdengar.

Sementara itu, Apple belum menjelaskan bagaimana teknologi Q.ai akan diterapkan dalam produk-produknya.

Dengan latar belakang rekam jejak praktik pengawasan Israel, kekhawatiran terkait kesepakatan ini dinilai wajar.

Israel baru-baru ini menyetujui penggunaan gelang pemantauan elektronik yang melacak pergerakan dan data biometrik, yang berfungsi sebagai mekanisme pengendalian populasi terhadap warga Palestina yang hidup di bawah sistem apartheid Israel.

Baca juga: Hamas: Klaim Israel soal Pelanggaran Gencatan Senjata Dimaksudkan untuk “Membenarkan Pembantaian” di Gaza

Menurut laporan The Cradle, Israel juga telah mengubah kampanyenya terhadap Lebanon menjadi perang spionase digital berbasis data, dengan memanfaatkan pengawasan massal, pengumpulan metadata, pelacakan biometrik, serta penargetan berbasis kecerdasan buatan untuk melacak dan membunuh tokoh-tokoh Hizbullah.

Perangkat sehari-hari, infrastruktur sipil, bahkan lingkungan sosial dilaporkan telah diubah menjadi alat pembunuhan algoritmik, di mana mesin semakin berperan dalam menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *