New York, Purna Warta – Ambisi besar Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai cadangan minyak Venezuela demi mewujudkan apa yang ia sebut sebagai “dominasi energi” kini berhadapan dengan realitas pasar dan skeptisisme industri, demikian dilaporkan The New York Times.
Laporan tersebut menegaskan bahwa mengubah slogan politik menjadi produksi minyak nyata jauh lebih rumit dibanding sekadar pernyataan publik. Meski Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, produksinya saat ini hanya sekitar 1 persen dari pasokan global akibat sanksi bertahun-tahun dan salah urus sektor energi.
Trump menyatakan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat akan menginvestasikan miliaran dolar untuk merehabilitasi infrastruktur minyak Venezuela dan meningkatkan produksi. Namun para analis memperingatkan proses itu dapat memakan waktu bertahun-tahun, sementara perusahaan minyak besar AS sejauh ini menunjukkan keengganan untuk berkomitmen.
Dalam pertemuan di Gedung Putih dengan para eksekutif energi, kepala eksekutif Exxon Mobil menyebut Venezuela sebagai negara yang “tidak layak untuk diinvestasikan” dan menolak menjanjikan belanja besar. Trump kemudian mengkritik sikap tersebut saat berbicara di Air Force One, menuding Exxon “terlalu bermain aman” dan menyatakan ketidaksukaannya terhadap respons perusahaan itu.
Tantangan Struktural dan Pasar Global
Masalah lain muncul dari absennya perusahaan minyak nasional di Amerika Serikat, seperti yang dimiliki Rusia atau Arab Saudi, yang dapat menjalankan agenda pemerintah secara langsung. Sejumlah analis juga mempertanyakan nilai strategis upaya “dominasi energi” di tengah pasar global yang sudah kelebihan pasokan minyak.
Ketua Eurasia Group, Cliff Kupchan, mengatakan kepada The New York Times bahwa di bawah kepemimpinan Trump, status Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia memang terus menguat, namun ia menilai strategi tersebut berisiko. “Menurut saya, itu adalah pertaruhan yang buruk,” ujarnya.
Dimensi geopolitik turut menambah kompleksitas. Kepala dana kekayaan negara Rusia, Kirill Dmitriev, menyoroti potensi Washington memperoleh “pengaruh pasar yang sangat besar” dalam perdagangan minyak global. Sementara itu, analis China dari Carnegie Endowment for International Peace, Tong Zhao, memperingatkan bahwa perluasan pengaruh AS di Amerika Latin dapat memungkinkan Washington memutus pasokan minyak dan sumber daya strategis lain ke China sewaktu-waktu.
Pandangan Lama di Era Pasar Baru
Obsesi Trump terhadap minyak Venezuela juga dinilai berbenturan dengan keterbatasan kekuasaan presiden dan realitas pasar energi global. Rencananya untuk mengambil alih minyak Venezuela setelah penculikan Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari menuai keraguan dari para eksekutif energi dan analis, yang menekankan bahwa bahkan produsen minyak terbesar dunia pun kesulitan menerjemahkan ambisi politik menjadi produksi riil.
Harga minyak acuan AS diperdagangkan di kisaran USD 56 per barel pekan lalu, mendekati level terendah dalam lima tahun. Kondisi ini mencerminkan kelebihan pasokan global dan membuat pendekatan Trump untuk “mengambil minyak” terlihat semakin kurang mendesak.
“Era 1973 sudah lama berlalu,” kata Amy Myers Jaffe, pakar energi dan geopolitik dari Universitas New York. Ia menekankan bahwa minyak tidak lagi menjadi titik lemah utama Amerika Serikat, yang kini memproduksi minyak dalam jumlah besar dan semakin bergantung pada sumber energi alternatif.
Meski demikian, pandangan Trump terhadap minyak sebagai alat geopolitik telah terbentuk sejak lama. Dalam bukunya Art of the Deal yang terbit pada 1987, ia menggambarkan embargo minyak 1973 sebagai pukulan besar bagi industri penerbangan AS. Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump membentuk Dewan Nasional Dominasi Energi untuk mengurangi ketergantungan Amerika Serikat pada impor energi.
Resistensi Produsen Teluk
Para analis menilai peluang Venezuela jauh lebih rumit dibanding gambaran Trump. Meghan L. O’Sullivan dari Universitas Harvard memperingatkan bahwa meskipun kendali atas minyak Venezuela berpotensi menekan pengaruh OPEC, Trump tetap menghadapi resistensi dari produsen Teluk yang bisa menolak meningkatkan produksi jika kebijakan AS memicu instabilitas pasar.
Tong Zhao menambahkan bahwa China waspada terhadap meluasnya pengaruh AS di Amerika Latin, terutama di tengah ketidakpastian global yang juga dipengaruhi situasi Iran. Sementara itu, Kupchan menilai pemerintahan Trump berisiko kehilangan fokus terhadap transisi global menuju teknologi berbasis listrik, sektor yang saat ini didominasi China.
“Trump tidak sepenuhnya keliru bahwa ada pengaruh geopolitik yang bisa diperoleh dari minyak Venezuela dan Iran,” kata Kupchan. “Namun yang perlu diperhitungkan adalah besarnya konsekuensi dan trade-off yang harus dibayar.”


