“Olahraga” sebagai Alat Perlawanan Sosial terhadap Rezim Zionis

olahraga

Tehran, Purna Warta – Sayyid Meqdad Sadat dalam catatannya dan laporannya kepada salah satu pemberitaan di Iran membahas “tinjauan berita dari agensi berita internasional terpercaya tentang reaksi dukungan terhadap rakyat Gaza oleh atlet dan penggemar tim besar, serta analisis sosiologi olahraga terhadap peristiwa ini”.

Dalam catatan tersebut disebutkan: dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak Oktober 2023 dan meningkatnya konflik di Gaza, para atlet dan penggemar tim besar dunia menunjukkan berbagai reaksi dukungan terhadap rakyat Palestina. Reaksi ini sering muncul dalam bentuk menampilkan bendera Palestina, spanduk, slogan, dan pernyataan publik, yang paling menonjol di cabang olahraga sepak bola, olahraga paling populer di dunia. Agensi berita terkemuka seperti Al Jazeera, The Guardian, Associated Press, Washington Post, dan lainnya telah meliput peristiwa ini. Beberapa contoh penting antara lain:

Penggemar Paris Saint-Germain (PSG) pada November 2024, saat pertandingan Liga Champions Eropa, menampilkan tifosi besar dengan slogan “Free Palestine” yang menuai kritik dari Menteri Olahraga Prancis, namun menunjukkan solidaritas luas terhadap rakyat Gaza. Pada April 2025, penggemar PSG kembali menampilkan spanduk dukungan untuk Palestina.

Pada Maret 2025, penggemar sepak bola di seluruh dunia meluncurkan kampanye “Kartu Merah untuk Israel”, menuntut boikot olahraga terhadap Israel oleh FIFA dan UEFA. Protes ini berlangsung di stadion-stadion Eropa, Asia, dan Amerika Selatan, dan diliput oleh Yahoo News dan Middle East Eye.

Dalam Olimpiade Paris 2024, penggemar sepak bola menampilkan bendera Palestina saat pertandingan tim Israel melawan Mali, dan melakukan protes terhadap kehadiran Israel. Laporan ini diliput oleh Anadolu Agency dan The Guardian, sementara Washington Post menyoroti atmosfer tegang di stadion dan spanduk dukungan yang ditampilkan.

Atlet ternama seperti Karim Benzema, Paul Pogba, dan Mohamed Salah mengeluarkan pernyataan dukungan untuk Palestina, dan beberapa, seperti Benzema, menghadapi kritik. Situs The Athletic membahas dampak dukungan ini terhadap karier pemain pada November 2023. Anadolu Agency pada Mei 2024 melaporkan bahwa atlet menunjukkan dukungan mereka secara global untuk Palestina.

Di Amerika Selatan, tim Palestino di Chile, yang memiliki komunitas Palestina besar, menjadi simbol protes; pemainnya tampil dengan pakaian bertuliskan pesan dukungan. Associated Press membahas hal ini pada September 2024.

Di Afrika Utara, penggemar sepak bola menggunakan stadion untuk menyuarakan dukungan bagi Palestina. Agensi Awasat melaporkan pada Mei 2024 bahwa stadion menjadi ruang ekspresi solidaritas.

Di Eropa, protes kadang memicu bentrokan, seperti di Amsterdam pada November 2024 ketika penggemar Israel bentrok dengan demonstran Palestina. Al Jazeera dan Times of Israel melaporkan peristiwa ini.

Di Inggris, penggemar Arsenal pada Maret 2024 menggelar aksi dukungan di luar stadion, yang menuai kritik. The Guardian melaporkan peristiwa ini.

Selain itu, di media sosial seperti X (sebelumnya Twitter), postingan dari penggemar tim seperti Real Sociedad, Olympique Marseille, dan Tyrone (Irlandia) menunjukkan dukungan luas. Misalnya, pada September 2024, di stadion terdengar sorakan untuk Gaza, dan pada Mei 2025, pemain Tyrone menampilkan spanduk dukungan.

Analisis Sosiologi Olahraga terhadap Peristiwa Ini

Dari perspektif sosiologi olahraga, reaksi dukungan ini menunjukkan peran olahraga sebagai lembaga sosial yang melampaui hiburan, menjadi ruang untuk mengekspresikan identitas kolektif, perlawanan politik, dan solidaritas global. Sepak bola, karena popularitas globalnya, menjadi alat ampuh untuk menggerakkan opini publik. Peristiwa ini dapat dianalisis melalui teori-teori sosiologi, seperti “Olahraga sebagai Cermin Masyarakat” (Eric Dunning) atau “Aktivitas Politik dalam Olahraga” (John Hargreaves).

1. Identitas kolektif dan solidaritas sosial:
Penggemar tim besar seperti PSG atau Real Sociedad memanfaatkan stadion sebagai “ruang publik” untuk membangun identitas bersama dengan rakyat Gaza. Aksi seperti tifosi atau kampanye kartu merah menjadi simbol budaya yang memperkuat rasa memiliki “komunitas global”. Dalam sosiologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan konsep Cornel Sandus, yang menggambarkan sepak bola sebagai “jaringan identitas global”, melintasi batas negara dan berempati pada isu kemanusiaan seperti genosida di Gaza. Kampanye “Kartu Merah untuk Israel” 2025 menunjukkan bagaimana olahraga menjadi alat perlawanan kolektif, di mana penggemar bertindak sebagai “aktor sosial” dan menekan institusi seperti FIFA.

2. Aktivitas politik dan standar ganda:
Olahraga selalu terkait politik, dan peristiwa ini menyoroti ketidakadilan dalam penerapan sanksi olahraga. Sementara Rusia dilarang dari kompetisi internasional karena perang di Ukraina, Israel tidak dikenai sanksi meski ada laporan PBB mengenai pelanggaran HAM di Gaza, memicu kritik luas. Secara sosiologis, dualisme ini dapat dijelaskan melalui teori “Kekuasaan dan Ideologi dalam Olahraga” (Peter Donnelly), di mana lembaga olahraga seperti FIFA dipengaruhi oleh kekuatan Barat, menjadikan olahraga alat untuk mempertahankan status quo.

3. Peran atlet sebagai model sosial:
Atlet seperti Benzema dan Salah memanfaatkan platform mereka untuk berperan sebagai “aktivis sosial”, mempengaruhi penggemar muda. Dalam sosiologi olahraga, hal ini terkait dengan konsep “role modeling”, di mana atlet menggunakan posisi elite mereka untuk menantang ketidakadilan. Namun, kritik media atau sanksi menunjukkan kontrol sosial atas atlet, mirip dengan gerakan “kneeling” Colin Kaepernick di NFL.

Akhirnya, peristiwa ini menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya mencerminkan isu sosial, tetapi juga bisa mendorong perubahan. Globalisasi olahraga memungkinkan isu seperti Gaza mendapat perhatian dunia, dan penggemar menjadi “warga dunia” yang aktif. Namun, tantangan seperti bentrokan di Amsterdam menunjukkan ketegangan sosial yang mendalam, yang bisa diperburuk atau diatasi oleh olahraga. Secara keseluruhan, dukungan ini menunjukkan potensi olahraga untuk memperkuat keadilan sosial dan perlawanan terhadap penindasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *