Penargetan Cerdas dalam Perang: Menghindari Penyamaan Musuh dan Kawasan

janng

Tehran, Purna Warta – Meskipun Iran berulang kali menegaskan bahwa sasaran serangannya dalam perang adalah kepentingan dan infrastruktur Amerika Serikat di kawasan, Tehran dinilai tetap harus berupaya membedakan antara pihak musuh dan aktor lain di kawasan.

Baca juga: Moskow: Koalisi Amerika Serikat dan Israel Memperparah Api Perang di Timur Tengah

Catatan Hossein Keshtkar:
Dalam studi hubungan internasional, tingkat kawasan selalu dianggap sebagai salah satu level analisis yang mendasar. Karena adanya berbagai kesamaan seperti kedekatan geografis, pertukaran ekonomi, serta kedekatan agama dan budaya di antara negara-negara tetangga, konsep “integrasi regional” kerap dipandang sebagai strategi untuk membangun aliansi dan kerja sama guna memaksimalkan kepentingan negara-negara anggota.

Dalam konteks ini, Iran melalui “kebijakan bertetangga”—yang antara lain tercermin dalam pemulihan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi—berupaya mengurangi kesenjangan ketidakpercayaan serta mendorong stabilitas melalui mekanisme kerja sama regional.

Namun ketika berbicara mengenai kawasan, yang dimaksud adalah berbagai negara dan aktor yang berbeda. Oleh karena itu, tidak tepat jika mereka dipandang sebagai satu kesatuan di bawah label sederhana seperti “negara Arab”, karena kebijakan, identitas, dan situasi masing-masing negara berbeda.

Diplomasi yang Gagal Mencegah Perang

Meskipun negara-negara di selatan Teluk Persia terus melakukan konsultasi bilateral dengan Tehran dan Washington sejak berakhirnya perang 12 hari hingga pecahnya “Perang Ramadan”, tampaknya upaya tersebut tidak berhasil mencegah konflik.

Menurut analisis ini, meningkatnya lobi Benjamin Netanyahu di Washington serta keyakinan Donald Trump bahwa “Iran yang melemah” dapat dikalahkan dengan cepat, mendorong pecahnya perang.

Setelah sebelumnya memperingatkan bahwa pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat serta rezim Zionis di kawasan akan menjadi sasaran, Iran akhirnya melancarkan serangan terhadap target-target tersebut, yang pada akhirnya memperluas konflik menjadi perang regional.

Perkembangan ini dapat menimbulkan ancaman sekaligus peluang dalam hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia, setidaknya dalam jangka menengah.

Persepsi Negatif di Negara-Negara Kawasan

Meskipun Iran telah melakukan berbagai komunikasi diplomatik, serangan terhadap beberapa negara di kawasan sejauh ini tidak sepenuhnya dapat diterima oleh para pejabat maupun opini publik di negara-negara tersebut. Sebagian pihak memandangnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional mereka.

Di satu sisi, masyarakat dan elite politik di negara-negara tersebut semakin mempertanyakan efektivitas payung keamanan Amerika Serikat dan bahkan mengkhawatirkan dampak keberlanjutan kehadiran militer AS di wilayah mereka. Namun hal itu tidak secara otomatis membuat mereka mendekat ke Iran; sebaliknya, situasi ini berpotensi meningkatkan persepsi ancaman terhadap Iran.

Mengingat pentingnya isu ini dan perlunya mempertimbangkan masa depan hubungan Iran dengan negara-negara Arab selama masa perang dan pascaperang—serta penekanan pemimpin Iran terhadap pentingnya hubungan baik dengan negara tetangga—beberapa rekomendasi taktis dan strategis diajukan sebagai berikut.

1. Membedakan Target dan Pihak yang Terlibat

Meskipun Iran menegaskan bahwa targetnya adalah kepentingan Amerika di kawasan, Tehran tetap perlu membedakan antara berbagai aktor. Misalnya, membedakan antara Israel sebagai musuh utama dengan Amerika Serikat sebagai aktor yang berbeda.

Baca juga: Dugaan Serangan Rekayasa ke Diego Garcia untuk Memperluas Perang

Demikian pula, pendekatan terhadap negara-negara Teluk harus didasarkan pada tingkat keterlibatan mereka dalam rencana Barat dan Israel. Dalam hal ini, negara-negara yang berafiliasi dengan poros Ikhwanul Muslimin perlu diperlakukan berbeda dari negara-negara yang tergabung dalam Perjanjian Abraham. Upaya diplomatik dan operasional harus diarahkan agar tidak terbentuk front regional yang bersatu melawan Iran.

2. Memperkuat Diplomasi Resmi, Elit, dan Publik

Iran juga perlu memperkuat diplomasi di berbagai tingkat. Setiap gelombang serangan terhadap negara Arab sebaiknya disertai penjelasan naratif mengenai tujuan serangan, penyebabnya—misalnya keberadaan fasilitas atau personel militer AS—serta perspektif kelanjutannya.

Pendekatan ini dapat membantu mencegah Iran dipandang sebagai ancaman keamanan regional.

Dalam situasi tertentu di mana kondisi militer tidak memungkinkan pembedaan target secara jelas, pemerintah tetap perlu mengendalikan dampaknya melalui langkah-langkah diplomatik. Misalnya, serangan terhadap fasilitas gas Ras Laffan di Qatar—yang dilaporkan menimbulkan kerugian sekitar 60 miliar dolar—perlu mempertimbangkan posisi politik Qatar yang berbeda dibandingkan negara seperti Uni Emirat Arab. Jika operasi militer memang tidak dapat dihindari, maka perlu diikuti dengan strategi diplomasi dan komunikasi yang kuat.

Kesimpulan

Meskipun serangan terhadap kepentingan dan pangkalan Amerika Serikat dianggap perlu untuk dilanjutkan, Iran harus merancang garis strategi yang cermat agar tekanan militer dan ekonomi terhadap Washington tidak justru memicu terbentuknya konsensus regional melawan Tehran, terutama di antara negara-negara selatan Teluk Persia.

Dengan kata lain, bahkan ketika Iran meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat—termasuk melalui pendekatan yang dalam literatur strategi dikenal sebagai “madman strategy”—Tehran tetap perlu membedakan berbagai target secara hati-hati dan melanjutkan operasi militer dalam kerangka yang lebih terarah, strategis, dan tidak didorong oleh emosi sesaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *