Berlin, Purna Warta – Angkatan bersenjata Jerman diguncang skandal yang kian meluas, menyusul terungkapnya dugaan pelecehan seksual, ideologi ekstrem kanan, serta penggunaan narkoba di salah satu unit paling elite. Kasus ini dinilai mengancam upaya Berlin membangun kembali kekuatan militernya sekaligus menarik minat generasi muda untuk bergabung.
Jaksa penuntut umum tengah menyelidiki lebih dari selusin tuduhan yang melibatkan prajurit Resimen Parasut ke-26, sebuah unit lintas udara yang bermarkas di Zweibrücken, negara bagian Rheinland-Pfalz, Jerman barat daya.
Penyelidikan mencakup dugaan penggunaan atribut bergaya Nazi, aksi hormat ala Hitler, hingga konsumsi narkoba ilegal di kalangan anggota resimen tersebut.
Simbol Nazi dan Narkoba Jadi Sorotan
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyatakan dirinya “terkejut dan geram” atas temuan tersebut, seraya menegaskan bahwa perilaku itu “sangat bertentangan dengan nilai-nilai dasar Bundeswehr.”
Kasus ini mencoreng peluncuran program baru wajib militer sukarela bagi warga berusia 18 tahun yang dimulai bulan ini, sebuah langkah penting Jerman untuk memperkuat angkatan bersenjatanya di tengah kekhawatiran yang meningkat terkait perang di Ukraina.
Skandal ini juga memicu pertanyaan lebih luas tentang budaya militer Jerman, pada saat Berlin berupaya mengambil peran yang lebih tegas di dalam negeri maupun di panggung internasional. Kanselir Friedrich Merz sebelumnya berjanji akan menjadikan Bundeswehr sebagai angkatan darat konvensional terkuat di Eropa.
Anggota parlemen Partai Hijau dan Komite Pertahanan Bundestag, Agnieszka Brugger, memperingatkan bahwa dampak kasus ini melampaui satu resimen semata.
“Ini mencoreng bukan hanya satu unit, tetapi juga pengabdian penting yang dilakukan banyak prajurit,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa situasi tersebut menjadi persoalan serius di saat Bundeswehr dan para pembuat kebijakan justru membutuhkan personel terbaik untuk direkrut.
Unit Bergengsi dengan Rekam Jejak Operasi Luar Negeri
Resimen Parasut ke-26, yang beranggotakan sekitar 1.700 prajurit, dikenal sebagai salah satu formasi paling bergengsi di Bundeswehr. Unit ini telah dikerahkan dalam berbagai misi, termasuk evakuasi dan operasi luar negeri di Afghanistan, Mali, dan Sudan.
Tuduhan mencuat ke publik pada Oktober lalu setelah sebuah surat kabar lokal menerima laporan anonim yang menyebut adanya penyelidikan terhadap prajurit yang melakukan hormat Nazi, memotret rekan di kamar mandi bersama, menggunakan narkoba, serta mengenakan pakaian bergaya Nazi.
Pihak militer kemudian mengonfirmasi bahwa penyelidikan internal sebenarnya telah dimulai sejak Juni, menyusul pengaduan dari prajurit perempuan yang jumlahnya sekitar 5 persen dari total personel unit tersebut.
Komandan Dicopot
Dalam perkembangan lanjutan, terungkap bahwa komandan resimen, Kolonel Oliver Henkel, telah dicopot dari jabatannya. Sebuah stasiun penyiaran lokal yang memperoleh rekaman pidato perpisahannya melaporkan bahwa Henkel membantah pengunduran dirinya terkait langsung dengan tuduhan tersebut.
“Saya memiliki hati nurani yang bersih dan yakin bahwa kebenaran serta keadilan pada akhirnya akan terungkap,” ujarnya.
Tuduhan terus berkembang. Surat kabar Frankfurter Allgemeine Zeitung pekan lalu mempublikasikan laporan investigatif yang mengutip sumber internal militer, yang menggambarkan adanya “kelompok ekstrem kanan yang secara terbuka antisemit” di pangkalan Zweibrücken.
Jenderal bintang tiga Harald Gante mengaku “hampir tak bisa berkata-kata” saat mengetahui detail kasus tersebut. Ia menyoroti bukan hanya peristiwanya, tetapi juga cara penanganannya. Gante menegaskan bahwa disiplin dan nilai-nilai demokrasi adalah pembeda utama Bundeswehr “dari tentara Rusia.”
Tuduhan Tambahan dan Kritik terhadap Menteri Pertahanan
Tuduhan baru muncul ketika Der Spiegel melaporkan bahwa seorang komandan kompi diduga mengarahkan pistol yang sebagian terisi peluru ke arah dua prajurit. Majalah itu juga menyebut seorang prajurit harus menjalani operasi setelah mengalami “pukulan berulang di area genital dan kepala” yang diduga dilakukan oleh instruktur.
Seiring terungkapnya skala kasus, Pistorius menghadapi kritik dari sejumlah legislator dan media karena baru memberikan pernyataan publik pada Desember.
Juru bicara Bundeswehr kepada Financial Times menyebutkan bahwa sejauh ini 55 orang telah diperiksa sebagai tersangka. Tiga prajurit telah diberhentikan, sementara 19 lainnya menghadapi proses pemecatan. Sebanyak 16 kasus telah diserahkan kepada jaksa, terutama terkait narkoba, namun juga mencakup hasutan kebencian dan penggunaan simbol ekstremis terlarang.
Rencana Reformasi Diluncurkan
Sebagai respons, militer Jerman meluncurkan “rencana aksi pasukan lintas udara” untuk memperkuat kepemimpinan dan pendidikan nilai-nilai demokrasi.
“Kekerasan, seksisme, dan ekstremisme tidak memiliki tempat di Bundeswehr,” tegas juru bicara tersebut. Ia menambahkan bahwa prajurit dan pegawai sipil diharapkan aktif membela tatanan demokrasi, dan pelanggaran akan ditindak tegas.
Kasus ini bukan yang pertama. Pada 2020, Kementerian Pertahanan Jerman membubarkan satuan pasukan khusus elite setelah ditemukan kepemimpinan beracun yang mendorong kecenderungan ekstremis.
Ketua Komite Pertahanan Bundestag, Thomas Rowekamp, menyebut tuduhan tersebut “mengejutkan” dan “tidak dapat diterima,” namun menegaskan bahwa kasus ini tidak mencerminkan keseluruhan Bundeswehr.
Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu oleh Pusat Sejarah Militer dan Ilmu Sosial Bundeswehr menemukan bahwa hanya 0,4 persen prajurit memiliki pandangan ekstrem kanan—jauh lebih rendah dibandingkan lebih dari 5 persen di kalangan masyarakat umum Jerman.


