Purna Warta – Para pemimpin Eropa telah menanggapi perang di Iran dengan Bahasa yang serupa: seruan untuk menahan diri, ajakan untuk diplomasi dan kembali berkomitmen terhadap hukum internasional. Dari Brussel hingga Berlin, bahasa yang digunakan sudah diperhitungkan. Namun, perbedaan antara ucapan Eropa dan perilaku mereka tampak jelas sekali.
Meskipun pemerintah Eropa secara terbuka menjauhkan diri dari eskalasi, namun infrastruktur, aliansi dan kebijakan mereka terus mendukung upaya perang. Eropa secara praktis justru mendukung perang yang mereka secara terbuka mengklaim menentang eskalasi perang tersebut. Pangkalan militer, jaringan logistik dan kerangka intelijen terkait dengan NATO tetap beroperasi penuh.
Aliran senjata terus berlanjut. Dukungan politik, meskipun seringkali tidak langsung, terus disampaikan tanpa bisa disangkal.
Kontradiksi ini bukan sekadar masalah kemunafikan. Ini mengungkapkan sesuatu yang lebih mendalam mengenai posisi Eropa dalam tatanan global yang didefinisikan dengan minimnya otonomi dan lebih cenderung berupa ketergantungan struktural pada Amerika Serikat. Perang di Iran tidak menciptakan realitas ini; melainkan mengungkapkannya.
Keanggotan mereka dalam NATO Adalah inti dari sikap dan posisi Eropa yang serba terbatas. NATO, selama beberapa dekade, telah menyediakan kerangka kerja keamanan Eropa. Tapi NATO juga lah yang mengatur kebijakan luar negeri Eropa, hal ini mempersempit ruang bagi Eropa untuk bertindak secara mandiri.
Bagi Vijay Prashad, seorang sejarawan dan direktur eksekutif Tricontinental: Institute for Social Research, hubungan ini menjelaskan kontradiksi yang terlihat jelas antara retorika dan perilaku Eropa.
“Nah, kontradiksi itulah yang menjadi inti dari pengaturan yang ditetapkan di seberang Atlantik, di mana negara-negara Eropa, dalam arti tertentu, menyerahkan kebijakan luar negeri mereka kepada Amerika Serikat melalui keterikatan mereka pada NATO. Dalam arti tertentu, NATO sebagian besar membentuk kebijakan luar negeri Eropa, dan Eropa sebenarnya tidak memiliki banyak kemerdekaan untuk menentukan arah kebijakan luar negerinya sendiri.”
Ini bukan hanya masalah pilihan politik. Ini merefleksikan realitas kelembagaan yang lebih dalam. Sistem keamanan, intelijen dan militer Eropa sangat terkait erat dengan sistem Amerika Serikat.
Pada saat krisis, perbedaan pendapat tidak hanya menjadi mahal secara politik, tetapi juga sulit secara struktural. “Jadi, terlepas dari pernyataan yang dibuat dari ibu kota Eropa, pada akhirnya, Eropa berada di pihak Amerika Serikat,” katanya kepada Al Mayadeen.
Pertanyaan sentral yang muncul akibat perang ini adalah apakah Eropa merupakan pengamat pasif atau peserta aktif. Jawabannya, semakin lama semakin mengarah jawaban kedua.
“Eropa memberikan berbagai bentuk bantuan langsung kepada Israel dan Amerika Serikat, termasuk penggunaan pangkalan Inggris di Siprus, yang pada dasarnya merupakan pangkalan NATO. Jadi, keterlibatan ini menyentuh inti NATO.”
Keterlibatan ini mungkin tidak selalu berupa keterlibatan militer langsung, tetapi tetap tak kalah penting. Penggunaan wilayah Eropa untuk operasi, pemeliharaan rantai pasokan dan transfer senjata semuanya berkontribusi dalam berjalannya perang.
Prashad menjelaskan hal ini dalam bingkai Sejarah:
“Eropa memiliki hubungan yang sangat buruk dengan Iran sepanjang abad ke-20. Negara-negara Eropa lah yang melakukan kudeta pada tahun 1953 yang membawa Shah Iran berkuasa, sosok yang pemerintahan brutalnya berlangsung dari tahun 1953 hingga 1979. Jerman Barat lah yang menyediakan senjata kimia kepada Irak untuk digunakan melawan Republik Islam antara tahun 1980 dan 1988. Negara-negara Eropa lainnya juga mempersenjatai Saddam Hussein untuk melakukan perang terhadap rakyat Iran.”
Sejarah ini bukanlah kebetulan. Sejarah ini membentuk bagaimana citra Eropa tampak di Teheran dan di seluruh kawasan. Lebih dari itu, hal ini menggarisbawahi bahwa peran Eropa saat ini adalah bagian dari rangkaian intervensi, penyelarasan dan perhitungan strategis yang lebih panjang.
Eropa telah lama memupuk citra dirinya sebagai pembela hukum internasional. Lembaga-lembaga dan tradisi diplomatiknya sering kali dipertontonkan sebagai pilar tatanan global berbasis aturan. Namun, perang melawan Iran telah mengungkap rapuhnya klaim ini.
“Jika orang Eropa ingin memiliki kebijakan luar negeri yang bermakna, saya ingin melihatnya… Di mana kecaman dari ibu kota-ibu kota Eropa? Tidak satu pun ibu kota yang secara jelas mengutuk perang agresi ini. Ini cukup memprihatinkan.”
Perbandingan dengan konflik lain tidak dapat dihindari. “Ada kemarahan atas invasi Rusia ke Ukraina, tetapi agresi Israel, termasuk pembunuhan warga sipil, termasuk 180 anak sekolah pada hari pertama pengeboman, tidak satu pun dari hal-hal itu yang menimbulkan kecaman penuh atas dasar hukum internasional.”
Inkonsistensi ini memiliki konsekuensi. Hal ini merusak kredibilitas Eropa tidak hanya di Asia Barat, tetapi juga secara global.
“Klaim Eropa sebagai pembela hukum internasional sangat terkikis. Bisa dikatakan klaim itu sudah sangat rusak berkenaan dengan Gaza dan dalam situasi dengan Iran ini, klaim itu semakin melemah.”
Bagi Prashad, masalahnya bukanlah standar ganda, tetapi sesuatu yang lebih sistemik:
“Sebenarnya, saya akan mengatakan Eropa tidak memiliki standar ganda, tetapi memiliki standar tunggal. Dan standar itu adalah apa yang saya sebut standar kolonial.”
Dilema Eropa memunculkan pertanyaan lebih luas: sejauh mana Eropa dapat bertindak secara mandiri di dunia persaingan kekuatan besar?
“Eropa memiliki ruang untuk mengambil keputusan sendiri. Tetapi Anda jarang melihat Eropa melangkahi Amerika Serikat.”
Ada momen-momen perbedaan pendapat seperti penolakan Jerman untuk bergabung dalam Perang Irak pada tahun 2003, tetapi ini tetap merupakan pengecualian bukan kebijakan bersama.
Yang sering terjadi adalah keharusan untuk selaras dengan Amerika. Dan keselarasan ini bukan hanya bersifat institusional, tetapi juga ideologis.
“Ada arogansi budaya yang mendasarinya, seperti yang saya katakan, seperti kabel bawah laut antara Amerika Serikat, Kanada dan Eropa.
“Meskipun terdapat lembaga-lembaga yang berbeda… keselarasan budaya yang mendasarinya ini menyatukan mereka dan secara efektif mendorong mereka ke posisi politik yang sama.”
Risiko dari ketergantungan terhadap Amerika ini semakin terlihat jelas. Perang di Iran berlangsung dalam situasi yang diciptakan oleh Amerika Serikat dan Israel bukan Eropa.
“Eropa perlu merenungkan dengan sangat serius, bahwa Amerika Serikat dan Israel pada dasarnya telah mencapai tingkat eskalasi yang sangat tinggi, namun tampaknya Iran tidak akan menyerah.”
Jika konflik gagal mencapai tujuannya, atau jika Iran muncul dengan kekuatan politik yang lebih besar, Eropa mungkin akan menjadi rentan secara strategis.
“Iran, pada kenyataannya, telah meraih semacam kemenangan politik. Jadi, apa artinya bagi Eropa, yang mengikuti Amerika Serikat dalam kebijakan sanksi yang juga merugikan perekonomian Eropa?
Eropa pada masanya pernah menjadi pelanggan utama minyak dan gas alam Iran. Namun hubungan itu terputus bukan karena inisiatif Eropa sendiri, tetapi karena selaras dengan kebijakan AS.”
“Hasil perang tidak hanya ditentukan secara militer, tetapi juga secara politik. Suatu negara boleh saja memiliki kekuatan militer yang sangat luar biasa namun tetap tidak mencapai tujuan politiknya.”
Bagi Eropa, implikasinya sangat mendalam. Dengan bersekutu dalam perang yang hasilnya tidak dapat dikendalikan ataupun dijamin, Eropa berisiko memperdalam ketergantungannya pada Amerika Serikat dan memperparah situasnya yang rentan.
Faktanya, perang di Iran mengungkapkan peran Eropa di dunia.
Ini adalah benua yang berbicara dalam bahasa hukum internasional, namun menerapkannya secara selektif.
Sebuah blok politik yang menyerukan diplomasi, namun tetap terperangkap dalam eskalasi militer. Sebuah kekuatan ekonomi yang menanggung biaya konflik, namun kebingungan akan arahnya.
Kontradiksi ini tidak lagi terselubung. Ini bersifat struktural. Dan dalam perang di Iran, hal itu sepenuhnya terungkap.
Oleh: Leila Nezirevic
Leila Nezirevic: Seorang jurnalis dan pembuat film dokumenter yang berbasis di London dengan pengalaman luas untuk media besar.


