Metode Perangkap Seks dan Pemerasan yang Sudah Dikenal; Apakah Epstein Agen Mossad?

Epstein4

Purna Warta – Abdel Bari Atwan, penulis dan analis Arab sekaligus pemimpin redaksi Ra’i al-Youm, dalam artikel tersebut menyatakan: “Pertanyaan serius yang hari-hari ini diajukan di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa adalah apakah terdapat hubungan kerja antara Jeffrey Epstein—yang disebut sebagai salah satu penjahat terbesar dalam sejarah modern—dan badan intelijen Israel, Mossad?”

Dalam artikel itu disebutkan bahwa meskipun terdapat banyak bukti yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung dugaan tersebut, sebagian besar penyelidikan resmi lebih berfokus pada para korban, termasuk anak-anak, gadis di bawah umur, serta sejumlah tokoh internasional yang mengunjungi pulau Epstein dan menghadiri pesta-pesta amoral di sana. Namun hingga kini, belum ada penyelidikan hukum resmi yang dipublikasikan mengenai hubungan Epstein dengan Mossad.

Disebutkan pula bahwa peran dari “perangkap ganda” yang diduga dipasang oleh Mossad adalah menjebak tokoh-tokoh politik dan finansial terkemuka, serta para korban lainnya, untuk kemudian diperas dengan ancaman hukuman melalui perangkat tersebut dan lobi-lobi Zionis yang aktif di sebagian besar negara Barat.

Dalam kasus ini, yang dibicarakan bukanlah orang biasa, melainkan para pemimpin dunia. Nama-nama yang disebut antara lain Donald Trump (presiden Amerika Serikat saat ini), Bill Clinton (mantan presiden AS), Pangeran Andrew (adik Raja Inggris saat ini), mendiang penyanyi Michael Jackson, Ehud Barak (mantan perdana menteri Israel), putra mahkota Norwegia, serta sejumlah putra mahkota, menteri, dan pengusaha kaya dari negara-negara Arab.

Artikel tersebut menyebutkan sejumlah dokumen yang diklaim menunjukkan adanya hubungan kuat antara Epstein dan Mossad, beberapa di antaranya baru-baru ini dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat:

Hubungan dekat Epstein dengan Ehud Barak, mantan menteri pertahanan dan perdana menteri Israel. Puluhan perjalanan Barak ke pulau Epstein serta keterlibatannya dalam berbagai proyek bisnis dan perusahaan keuangan disebut sebagai indikasi hubungan tersebut. Barak tidak membantah adanya hubungan itu, tetapi membantah ikut serta dalam pesta-pesta tersebut.

Peran Epstein dalam upaya mendorong migrasi satu juta warga Rusia ke wilayah Palestina yang diduduki, untuk bergabung dengan sekitar satu juta lainnya—yang sebagian besar bukan Yahudi—dengan tujuan menyeret Rusia lebih dalam ke kawasan Timur Tengah dan mendorong Moskow melindungi warga negaranya, sehingga mendukung kabinet rezim pendudukan menjadi prioritas Rusia.

Disebutkan adanya lebih dari tiga juta dokumen dan video terkait pesta-pesta Epstein dan para pesertanya, sebagian di antaranya berisi rekaman eksplisit yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Dokumen lain yang jumlahnya hampir dua kali lipat disebut mengindikasikan adanya organisasi pemerintah atau intelijen yang berada di belakangnya, termasuk dalam proses perekaman dan pemilihan korban.

Misteri kematian Epstein di sel isolasinya. Bukti yang dipublikasikan dalam beberapa hari terakhir mempertanyakan data resmi Amerika, termasuk dugaan bahwa tali yang digunakan untuk gantung diri bukanlah tali yang ditemukan di sel tersebut. Beberapa informasi yang bocor bahkan mengklaim Epstein masih hidup dan kini tinggal di Tel Aviv setelah keluar secara ilegal.

Penyelidikan independen berdasarkan rekaman kamera pengawas penjara menunjukkan seorang pria mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye memasuki sel isolasi beberapa menit sebelum kematian yang dinyatakan sebagai bunuh diri.

Ghislaine Maxwell, asisten utama Epstein yang berperan besar dalam merekrut dan memindahkan gadis-gadis di bawah umur ke pulau tersebut, saat ini menjalani hukuman 20 tahun penjara. Ia adalah putri Robert Maxwell, jutawan Inggris yang disebut sebagai anggota aktif dinas intelijen Israel dan menggunakan surat kabarnya, Daily Mirror, untuk mendukung kebijakan Israel.

Pernyataan Ari Ben-Menashe, mantan pejabat intelijen Israel, yang menegaskan bahwa Epstein dan asistennya berupaya menjebak tokoh-tokoh berpengaruh dalam situasi seksual untuk tujuan pemerasan.

Artikel tersebut menambahkan bahwa menjebak tokoh berpengaruh melalui perangkap seksual merupakan salah satu metode yang disebut-sebut kerap digunakan Mossad untuk menekan dan memaksa korban melakukan tindakan sesuai kepentingannya.

Tzipi Livni, mantan menteri luar negeri Israel yang pernah bekerja untuk Mossad, disebut tidak menyangkal pendekatan semacam itu. Dalam wawancara dengan surat kabar The Times Inggris, ia menyatakan siap melakukan apa pun demi melayani Israel.

Dalam gelombang pertama dokumen yang dirilis mengenai tindakan-tindakan memalukan di pulau Epstein, disebutkan pula nama-nama tokoh Arab terkemuka, meskipun tidak disertai foto atau video. Ada dugaan bahwa sebagian bukti telah dihapus oleh pengawas di Departemen Kehakiman AS.

Menurut sejumlah analisis, gelombang kedua dokumen—yang diperkirakan mencakup lebih dari tiga juta foto, berkas, dan video—akan segera dirilis. Publikasi tersebut diperkirakan terjadi setelah kemungkinan keluarnya Trump dari Gedung Putih, proses pemakzulan yang mendekat, serta potensi hilangnya mayoritas Partai Republik di Kongres dan Senat dalam pemilu sela November mendatang.

Salah satu perkembangan penting dalam kasus ini, menurut artikel tersebut, bisa jadi adalah terungkapnya fakta-fakta mengejutkan terkait kawasan Timur Tengah dan pejabat pemerintah Arab.

Publikasi memoar Tzipi Livni, mantan menteri luar negeri Israel, juga disebut memuat informasi mengenai pertemuan-pertemuan rahasia maupun terbuka dengan sejumlah pejabat Arab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *