Purna Warta – Dan Perry, seorang analis Israel mantan pemimpin redaksi Associated Press untuk kawasan Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, dalam artikel yang dimuat surat kabar berbahasa Ibrani Maariv, menganalisis kepribadian Trump. Ia menggambarkannya sebagai sosok egois yang melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri serta menyebut presiden AS itu sebagai figur yang tidak berpengetahuan.
Dalam kerangka memprediksi perilaku Donald Trump, analis Israel tersebut memaparkan sejumlah poin utama:
Pertama, Trump disebut sebagai pribadi narsistik. Ia melihat segala sesuatu dari perspektif dirinya sendiri dan jarang membahas kebijakan tanpa mengalihkan pembicaraan pada “kejeniusannya,” kegagalan para pendahulunya, atau ketidakadilan yang menurutnya ia alami.
Obsesi lamanya—terlepas dari relevansinya—kembali dimunculkan, termasuk klaim bahwa pemilu 2020 “dicuri,” penghinaan imajiner dari lembaga-lembaga internasional, serta kekecewaan atas penghargaan yang tidak pernah ia terima.
Menurut Perry, hasil kebijakan bagi Trump kurang penting dibanding kemampuannya menggambarkan setiap hasil sebagai kemenangan pribadi. Ia membutuhkan kemenangan—nyata maupun imajiner—sebagaimana kebanyakan orang membutuhkan oksigen. Jika konfrontasi dengan Iran dapat diproyeksikan sebagai panggung baginya untuk tampil sebagai figur tegas dan bersejarah ala Churchill, itu akan sangat berarti baginya; demikian pula jika sikap menahan diri dapat dikemas sebagai “kesepakatan besar.”
Kedua, ia disebut sebagai “pembohong bawaan,” namun bukan dalam pengertian politik biasa. Jika sebagian besar politisi memelintir kebenaran, pendekatan Trump berbeda. Ia, menurut penulis, berbohong bukan untuk menutupi realitas, melainkan untuk menciptakan realitas baru. Bagi Trump, kata-kata adalah alat konstruksi; nilai sebuah klaim terletak pada kegunaannya, bukan pada kebenarannya.
Bahkan kebohongan yang mencolok, menurut Perry, berubah menjadi ujian loyalitas bagi para pendukungnya. Yang menonjol bukan hanya jumlah kebohongan, tetapi juga ketiadaan rasa malu. Alih-alih mundur setelah kebohongan terungkap, ia justru memperkuatnya. Dalam pola ini, kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran—sebuah pola yang dinilai berbahaya ketika ancaman perang diumumkan, dibantah, lalu diulang kembali dalam hitungan hari.
Ketiga, Trump digambarkan sebagai negosiator naluriah. Instingnya mendorongnya menuntut lebih dari yang ia perkirakan akan diterima, mengambil posisi keras, lalu mundur dan mengklaim kemenangan. Ini disebut sebagai prinsip dasar negosiasi psikologis yang kerap ia gunakan.
Keempat, kelangsungan politiknya tidak bergantung pada persetujuan mayoritas, melainkan pada pemeliharaan basis loyal. Ia memahami bahwa banyak—bahkan mungkin mayoritas—warga Amerika tidak menyukainya, namun bagi Trump hal itu tidak penting. Yang krusial adalah basis pendukung yang bersemangat dan menguasai partainya. Mengendalikan basis berarti mengendalikan partai, yang dalam sistem pemilu AS memberi Partai Republik keunggulan struktural di sejumlah negara bagian.
Kelima, ia dinilai memiliki ketidaktahuan mendalam tentang sejarah, sains, ekonomi, dan hubungan internasional. Sejumlah pernyataannya—seperti menyebut konflik “Israel” dan Arab telah berlangsung “ribuan tahun,” kebingungan geografis, serta pandangan tidak lazim tentang tarif dan perdagangan—dipandang sebagai bukti hal tersebut. Namun, dalam kasus Trump, ketidaktahuan itu justru memberinya ruang untuk berimprovisasi.
Keenam, ia dinilai lekat dengan nuansa korupsi dan konsumerisme berlebihan. Pola yang oleh para pengkritiknya disebut sebagai “quid pro quo” atau timbal balik politik—yang melibatkan relasi bisnis, kepentingan asing, dan investasi keuangan—telah banyak didokumentasikan.
Ketujuh, ia digambarkan terpisah dari nilai dan prinsip moral. Trump, menurut penulis, tidak menjadikan demokrasi sebagai prinsip panduan dan tidak menunjukkan penolakan khusus terhadap rezim otoriter. Strategi keamanan yang ia terbitkan pada Desember lalu menunjukkan pergeseran dari promosi demokrasi sebagai tujuan utama.
Kedelapan, ia disebut sebagai ahli dalam memanipulasi perhatian dan emosi publik. Ia memahami bahwa pemasaran, sindiran, pertunjukan, dan provokasi adalah alat politik. Gayanya—yang provokatif dan terkadang dirancang untuk memancing kemarahan—disebut sebagai strategi umpan politik.
Ia bahkan pernah membagikan video hasil kecerdasan buatan yang menampilkan dirinya sebagai pilot pesawat tempur bermahkota yang menyerang warga New York dengan hujan kotoran. Kemarahan para penentangnya justru menyenangkan para pendukungnya, sementara tindakan melanggar norma menjadi pesan itu sendiri.
Artikel tersebut menyimpulkan bahwa setiap upaya memprediksi apakah Trump akan menyerang Iran harus mempertimbangkan delapan karakteristik tersebut. Ia terobsesi pada kemenangan dan bersedia membengkokkan realitas untuk mencapainya. Namun, ia kecil kemungkinan memilih jalur yang merugikan lingkaran dekatnya, meyakini keunggulan taktisnya sendiri, serta—mengingat pandangannya tentang perang berkepanjangan dan pembangunan bangsa—kemungkinan akan menghindari skenario seperti invasi dan pendudukan jangka panjang ala Irak.


