Masa Depan Seperti Apa yang Diinginkan Perdana Menteri Israel untuk Timur Tengah?

Netanyahu 2

Al-Quds, Purna Warta – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, setelah dimulainya perang dengan Iran, mengklaim bahwa ia semakin dekat dengan visi “Timur Tengah baru” yang diinginkannya. Namun pertanyaannya adalah: apakah melemahkan atau bahkan melenyapkan Iran akan menyelesaikan seluruh persoalan Israel?

Benjamin Netanyahu setelah dimulainya perang dengan Iran menyatakan bahwa ia kini sangat dekat dengan “Timur Tengah baru” yang ia bayangkan—sebuah kawasan di mana poros perlawanan Iran telah dilemahkan, program nuklir dan rudal Teheran dihancurkan, serta terbuka jalan bagi normalisasi hubungan dengan Arab Saudi.

Dalam perkembangan selama satu tahun sejak Maret 2025 hingga kini, setelah gagalnya perundingan nuklir dan terjadinya perang 12 hari pada Juni 2025, konflik tersebut telah menimbulkan biaya ekonomi besar bagi Israel (termasuk peningkatan anggaran pertahanan hingga lebih dari 30 miliar dolar). Namun Netanyahu menyebutnya sebagai upaya “mengubah wajah Timur Tengah”.

Para pendukung dari Partai Republik di Kongres AS, seperti Senator Lindsey Graham, menggambarkannya sebagai langkah “yang diperlukan untuk keamanan Israel dan untuk menghapus ancaman eksistensial”. Sebaliknya, para penentang dari Partai Demokrat, seperti Senator Elizabeth Warren, menyebutnya sebagai “perang ilegal tanpa izin Kongres” dan memperingatkan bahwa “menghancurkan Iran tidak akan menyelesaikan masalah internal Israel”.

Dalam konferensi pers pada 13 Maret 2026, Netanyahu mengatakan:
“Ini bukan lagi Iran yang sama, ini bukan lagi Timur Tengah yang sama, dan ini bukan lagi Israel yang sama; kami sedang mengubah wajah kawasan.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menegaskan:
“Operasi ini diperlukan untuk mencegah ancaman nuklir Iran dan akan membantu terciptanya perdamaian nyata di kawasan.”

Visi “Timur Tengah Baru”

Gagasan “Timur Tengah baru” yang dipromosikan Netanyahu bahkan sebelum peristiwa 7 Oktober 2023 didasarkan pada tiga pilar utama:

  • Normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab (perluasan Perjanjian Abraham).
  • Menghilangkan ancaman dari Iran dan poros perlawanan.
  • Mengabaikan atau meminggirkan isu Palestina.

Perang tahun 2026 yang berakar dari ketegangan selama setahun terakhir—mulai dari gagalnya negosiasi nuklir 2025 yang dimediasi Oman hingga perang terbatas pada Juni 2025 dan ancaman berulang dari Donald Trump dan Netanyahu—kini telah memasuki minggu ketiganya.

Apakah Netanyahu Semakin Dekat dengan Tujuannya?

Pertanyaan kuncinya adalah:
Apakah Netanyahu benar-benar semakin dekat dengan “Timur Tengah baru” versinya? Dan apakah melemahkan Iran secara drastis akan menyelesaikan seluruh masalah Israel?

Selama satu tahun terakhir, perang dengan Iran telah berdampak langsung pada ekonomi Israel dan mendorong Netanyahu untuk mengklaim bahwa ia semakin dekat dengan tujuan tersebut. Pengeluaran pertahanan Israel meningkat lebih dari 20 persen hingga sekitar 30 miliar dolar. Namun menurut laporan Pentagon, penghancuran sebagian program rudal dan nuklir Iran juga membuka peluang bisnis baru dengan negara-negara Arab.

Pendukung Partai Republik di Kongres, seperti Senator Ted Cruz, menyebutnya sebagai “investasi bagi keamanan ekonomi jangka panjang”, merujuk pada laporan Wall Street Journal yang menyatakan bahwa normalisasi dengan Arab Saudi dapat menghasilkan perdagangan bernilai miliaran dolar.

Sebaliknya, para penentang dari Partai Demokrat seperti Senator Chris Murphy dalam pernyataan Maret 2026 mengatakan:
“Perang tanpa izin ini telah mengorbankan anggaran domestik Amerika dan Israel serta memperburuk inflasi global.”

Data Bank Dunia dan survei Reuters menunjukkan harga minyak telah melampaui 100 dolar per barel, yang menekan margin keuntungan ekonomi Israel.

Dampak Politik

Dalam satu tahun terakhir, perang dengan Iran memperkuat dukungan domestik terhadap Netanyahu tetapi sekaligus memperdalam perpecahan di Kongres AS.

Netanyahu dalam konferensi pers 13 Maret 2026 menyebutnya sebagai “kemenangan bersejarah”. Survei Israel Democracy Institute (IDI) menunjukkan bahwa 93 persen warga Yahudi Israel mendukung kebijakan tersebut.

Di Kongres AS, tokoh Partai Republik seperti Mike Johnson dan Senator Lindsey Graham juga membelanya dalam pemungutan suara terkait perang (Senat 53–47), dengan mengatakan:
“Langkah ini diperlukan untuk keamanan Israel dan untuk menghapus ancaman eksistensial.”

Namun laporan Politico menunjukkan bahwa perpecahan ini berpotensi menimbulkan risiko politik bagi Partai Republik dalam pemilu sela bulan November.

Masalah yang Belum Terselesaikan

Sementara itu, lembaga pemikir Brookings Institution menekankan bahwa meskipun melemahkan Iran telah meningkatkan dukungan politik terhadap Netanyahu, hal itu tidak menyelesaikan isu Palestina maupun protes domestik di Israel.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa perang juga berfungsi sebagai alat politik untuk memperkuat posisi Netanyahu, tetapi tidak mampu mengatasi masalah struktural Israel.

Pada satu tingkat analisis, keputusan Netanyahu untuk melancarkan serangan dipandang sebagai kalkulasi biaya-manfaat: para pendukung menilainya rasional untuk keamanan, sedangkan para penentang menyoroti biaya politik dan elektoralnya.

Pada tingkat analisis lain, perang dipandang sebagai instrumen untuk mempertahankan keunggulan strategis Israel. Dalam setahun terakhir, tekanan Netanyahu disebut mendorong Donald Trump untuk mengambil tindakan.

Analisis Jerusalem Post menunjukkan bahwa pendekatan ini memang membatasi kekuatan Iran, tetapi tidak menyelesaikan semua persoalan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, melalui pelemahan signifikan terhadap Iran dalam perang 2026, Netanyahu mungkin semakin mendekati visi “Timur Tengah baru” yang ia bayangkan dan berhasil mengurangi ancaman nuklir serta rudal dari Iran.

Namun, bahkan jika Iran sepenuhnya dilenyapkan, hal itu tidak akan menyelesaikan seluruh masalah Israel—termasuk isu Palestina, tekanan ekonomi akibat perang, dan risiko ketidakstabilan regional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *