Krisis Selat Hormuz dan Dampaknya: Guncangan Sistem Petrodolar serta Perubahan Keseimbangan Energi Global

Hormuz 1

Purna Warta – Sekitar 26 tahun yang lalu, ketika mantan presiden Irak Saddam Hussein mengambil sebuah keputusan yang sangat penting, kemungkinan besar ia tidak menyadari bahwa keputusan tersebut bisa menjadi salah satu penyebab akhir hidupnya. Saat itu ia memutuskan bahwa Irak akan menggunakan euro alih-alih dolar Amerika Serikat dalam ekspor minyaknya. Keputusan tersebut dianggap sebagai upaya mematahkan salah satu pilar utama dominasi global Amerika Serikat.

Setelah itu terjadilah berbagai peristiwa yang sudah dikenal: serangan 11 September, kemudian invasi Amerika Serikat ke Irak dengan dalih bahwa negara itu memiliki senjata kimia, biologis, dan nuklir. Belakangan terungkap bahwa sebagian besar klaim tersebut tidak benar, bahkan sejumlah pejabat Amerika mengakuinya beberapa tahun kemudian. Pendudukan Irak dan eksekusi Saddam Hussein menjadi pesan jelas bagi semua negara penghasil minyak di Asia Barat: jangan pernah mempertimbangkan penggunaan mata uang selain dolar dalam perdagangan minyak.

Perdagangan Minyak dengan Yuan Saja Sudah Cukup Membuat Washington Marah

Selama hampir dua dekade, ancaman tersebut tetap efektif. Namun dengan meningkatnya kekuatan ekonomi negara-negara berkembang, terutama Republik Rakyat Tiongkok, dalam produksi dan perdagangan global, keseimbangan pasar energi dunia mulai berubah.

Republik Islam Iran termasuk yang paling awal membuka jalan tersebut. Pada tahun 2021, Teheran dan Beijing menandatangani perjanjian strategis 25 tahun, dan dalam waktu singkat Iran mulai menjual sekitar 95% minyaknya menggunakan yuan Tiongkok. Washington memantau perubahan ini, tetapi menganggap dampaknya terbatas selama hanya terjadi di Iran. Namun segera terlihat bahwa tren tersebut tidak akan berhenti di sana.

Pada 2023, melalui kesepakatan antara Saudi Aramco dan perusahaan Tiongkok Sinopec, sekitar 65% perdagangan minyak mulai menggunakan yuan alih-alih dolar. Bagi Washington, situasi ini semakin mengkhawatirkan karena perubahan tersebut juga disertai perkembangan sistem pembayaran digital seperti yuan digital (e-CNY), yang dianggap sebagai salah satu alat paling mampu menantang dominasi dolar dalam sistem keuangan global.

Pada tahun yang sama, Qatar, salah satu produsen gas alam terbesar di Teluk, menandatangani kesepakatan dengan PetroChina, juga tanpa menggunakan dolar dalam penyelesaian transaksi energi.

Perubahan Geopolitik Energi

Menjelang 2025, sejumlah perkembangan yang mengkhawatirkan bagi Washington mulai semakin jelas. Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengadopsi strategi keseimbangan antara Amerika Serikat dan negara-negara BRICS.

Sementara itu Uni Emirat Arab berperan sebagai semacam “bank koresponden” dalam perdagangan antara Iran dan Tiongkok, sekaligus tidak melihat masalah dalam bergabung dengan BRICS. Arab Saudi sendiri juga sedang menunggu proses keanggotaannya.

Qatar bergerak dalam arah yang serupa, sementara aliansi Turki–Qatar berkembang menuju peran regional yang lebih besar. Tren ini juga tercermin dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)—yang meliputi Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Oman—melalui penyelenggaraan pertemuan puncak bersama dengan ASEAN dan Tiongkok.

Jika Berakhir di Venezuela… Maka Giliran Iran

Bagi Amerika Serikat, situasi ini menaikkan status peringatan dari kuning menjadi merah. Strategi keamanan nasional baru Washington mulai bergerak menuju tujuan yang bersifat merkantilis baru.

Target pertama adalah Venezuela, di mana Washington berusaha mengamankan pasokan minyak mentah serta mengirim pesan bahwa Amerika Latin tetap merupakan “halaman belakang” Amerika Serikat, sekaligus memutus salah satu jalur pasokan energi penting bagi Tiongkok.

Namun Iran tetap bertahan, dan menjatuhkan pemerintahannya tidaklah mudah meskipun menghadapi berbagai tekanan serta upaya memicu kerusuhan internal.

Pada 28 Februari, operasi militer yang dipimpin oleh koalisi Amerika Serikat, Israel, dan Inggris dimulai dengan tujuan menjatuhkan pemerintahan Iran secara cepat. Namun setelah 25 hari perang, menjadi jelas bahwa perhitungan tersebut tidak tepat dan justru membuat situasi semakin rumit.

Upaya Teheran untuk mempertahankan diri dari serangan dari wilayah kawan telah menimbulkan biaya ekonomi besar bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Masalahnya kini tidak hanya terbatas pada gangguan pasokan minyak mentah, tetapi juga mulai mempengaruhi sistem keuangan global dan perdagangan internasional secara keseluruhan.

Korban Pertama Serangan terhadap Iran: Sekutu Amerika

Selat Hormuz, yang dilalui 20–38% perdagangan minyak dunia, secara praktis tidak lagi berfungsi meskipun Iran belum secara resmi menutupnya.

Untuk memahami pentingnya jalur ini:

Sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak melewati selat tersebut setiap hari pada 2025.
Selain itu, sekitar seperlima perdagangan LNG dunia juga melewati jalur ini pada 2024.

Pasokan minyak global diperkirakan turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret, menjadi 98,8 juta barel per hari, tingkat terendah sejak kuartal pertama 2022, meskipun sebagian dikompensasi oleh produksi di Amerika Serikat, Rusia, dan Kazakhstan.

Para ahli dari S&P Global Energy CERA menyatakan bahwa pasar minyak dunia mengalami ketidakseimbangan besar akibat kelebihan pasokan di kawasan Teluk dan penurunan cadangan di Asia. Stabilitas hanya akan kembali jika aliran minyak melalui Selat Hormuz kembali normal.

Negara-negara yang paling terdampak gangguan pelayaran di selat tersebut antara lain:

  • India
  • Korea Selatan
  • Jepang
  • Taiwan
  • Thailand

Jepang bergantung sekitar 90% impor minyaknya dari Asia Barat.
Korea Selatan memperoleh sekitar 70% minyaknya dari kawasan tersebut, dan lebih dari 95% di antaranya melewati Selat Hormuz.

Sementara itu India menghadapi tantangan tambahan setelah kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Tel Aviv sebelum operasi militer dimulai. Krisisnya sedikit mereda setelah Rusia menyatakan kemungkinan melanjutkan kembali ekspor minyak ke India.

Jepang bahkan mengadakan rapat darurat kebijakan moneter, dan mempertimbangkan penjualan aset Amerika senilai lebih dari 600 miliar dolar untuk menopang pasar keuangannya. Korea Selatan juga menghadapi kesulitan besar dalam menjamin pasokan energi bagi industri ekspornya.

Bisakah Kekurangan Pasokan Ditutup?

Berbagai upaya dilakukan untuk meredakan krisis energi sebagian.

Arab Saudi, produsen terbesar dalam OPEC, mencoba mendiversifikasi rute ekspor minyak melalui jalur alternatif seperti pipa SUMED di Mesir.

Sementara itu Irak menghentikan produksi di ladang minyak Rumaila Selatan setelah kehilangan akses ke jalur ekspor utama melalui pelabuhan Basra.

Kementerian Minyak Irak mengumumkan rencana menyalurkan sekitar 200 ribu barel per hari melalui Turki, Suriah, dan Yordania, dengan kemungkinan meningkatkan kapasitas ekspor utara antara 200 hingga 450 ribu barel per hari.

Pemerintah Kurdistan Irak telah menyetujui pengaturan ini, namun kelanjutannya bergantung pada keamanan infrastruktur minyak Irak dari potensi serangan.

Pihak yang Paling Merugi: Jepang, Korea Selatan, dan Eropa

Pasar keuangan global mengalami fluktuasi tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Pada 4 Maret:

  • Indeks pasar Asia turun tajam.
  • Pasar Eropa mencatat kenaikan kecil.
  • Pasar Amerika dibuka menguat.

Di kawasan Teluk, dampaknya terasa langsung:

  • Indeks Bursa Dubai turun.
  • Kapitalisasi pasar Abu Dhabi dan Qatar menurun.
  • Saham sejumlah perusahaan besar mengalami kerugian signifikan.

Prediksi Resesi Ekonomi di Negara Teluk

Analis dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa jika konflik berlanjut dan Selat Hormuz tetap terganggu selama dua bulan, maka:

Qatar dan Kuwait dapat mengalami kontraksi ekonomi hingga 14%, penurunan terburuk sejak Perang Teluk 1990-an.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga bisa mengalami kontraksi, tetapi lebih kecil—sekitar 3% hingga 5%—karena memiliki jalur ekspor alternatif.
Pemenang Terbesar: Rusia (dan China Sudah Siap)

Rusia menjadi salah satu penerima keuntungan terbesar dari krisis ini karena meningkatnya permintaan terhadap minyaknya meskipun masih dikenai sanksi.

Negara lain yang juga diuntungkan oleh kenaikan harga minyak meliputi:

  • Norwegia
  • Inggris
  • Kanada
  • Venezuela
  • Amerika Serikat

Harga minyak Brent sempat mencapai sekitar 104 dolar per barel dengan volatilitas tinggi.

Dampak Meluas ke Sistem Keuangan Global

Dampaknya tidak hanya pada energi, tetapi juga pada:

  • perdagangan global
  • rantai pasokan
  • asuransi maritim

Biaya pengiriman dan asuransi meningkat tajam. Sejumlah sektor seperti teknologi, pertanian, dan industri juga ikut terdampak.

Pasokan helium, yang penting bagi industri teknologi tinggi, ikut terganggu. Selain itu muncul potensi krisis di pasar pupuk, yang dapat memicu gangguan serius terhadap ketahanan pangan global, dengan penurunan pasokan sekitar 33%.

Apakah Sistem Petrodolar Menghadapi Tantangan Eksistensial?

Jika Amerika Serikat gagal mencapai tujuannya, sementara porsi dolar dalam cadangan devisa global telah turun dari 71% menjadi 59%, maka setiap gangguan besar di Selat Hormuz dapat menjadi titik balik sejarah yang mengubah struktur sistem keuangan dunia.

Sistem petrodolar bukan hanya terkait perdagangan minyak, tetapi juga menjadi dasar pembiayaan pasar keuangan global. Dengan meningkatnya perubahan geopolitik dan ekonomi, dunia tampaknya sedang bergerak menuju tatanan multipolar, di mana kekuatan-kekuatan besar bersaing untuk membentuk kembali keseimbangan pengaruh ekonomi dan politik global.

 

Oleh : Sulaiman Karan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *