Kebenaran Hollywood: ‘W.’ karya Oliver Stone Mengungkap Imperium AS dan Permusuhannya Terhadap Iran

Holwod

Purna Warta – Film Hollywood selama puluhan tahun membentuk cara pandang publik melalui kisah-kisah populer tentang koboi dan penjahat, yang sering menempatkan tokoh “koboi” sebagai pahlawan dan masyarakat pribumi sebagai lawan. Tokoh-tokoh seperti John Wayne menjadi simbol narasi tersebut, yang dalam banyak film memperlihatkan “orang kulit putih pemberani” melawan penduduk asli Amerika.
Namun, seiring waktu, sebagian penonton mulai menilai kembali narasi tersebut dan lebih bersimpati kepada masyarakat pribumi yang mempertahankan tanah mereka, termasuk tokoh-tokoh sejarah seperti Geronimo.
Meski demikian, Hollywood tidak selalu dipandang sebagai sarana penyebaran ideologi sayap kanan. Sejumlah sineas dan aktor juga menggunakan platform film untuk menggambarkan cara kerja kekuasaan Amerika Serikat serta bagaimana negara itu berupaya membentuk tatanan global.
Saat ini, banyak pengamat melihat Hollywood sebagai bagian dari “aparatus ideologis negara” milik United States, yang berfungsi sebagai instrumen soft power untuk menyebarkan nilai, budaya, dan ideologi politik Amerika ke seluruh dunia.
Media, meme, dan “gamifikasi perang”
Dalam era kecerdasan buatan, gim digital, dan media sosial, lanskap media global semakin kompleks. Fenomena ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai bagaimana propaganda, meme, dan disinformasi digunakan sebagai alat dalam konflik geopolitik.
Sebuah segmen dari program The Listening Post baru-baru ini menyoroti bagaimana United States dan Israel menggunakan media sosial dan meme dalam konflik mereka dengan Iran.
Program tersebut menyebut fenomena ini sebagai “gamifikasi perang,” yakni penggunaan media digital untuk membangun narasi politik dan mempengaruhi opini publik. Disebutkan pula bahwa pendekatan tersebut digunakan oleh Presiden AS Donald Trump untuk memperoleh dukungan internasional terhadap kebijakan militernya.
Produser program tersebut juga mencatat bahwa baik Amerika Serikat maupun Iran semakin memanfaatkan meme, animasi berbasis kecerdasan buatan, dan konten satir yang dirancang agar mudah viral di media sosial.
Film “W.” dan pandangan strategis AS
Fokus utama tulisan ini adalah film W., yang disutradarai oleh Oliver Stone dan ditulis oleh Stanley Weiser. Film tersebut menampilkan Josh Brolin sebagai Presiden AS George W. Bush dan Richard Dreyfuss sebagai Wakil Presiden Dick Cheney.
Alur film mengikuti perjalanan politik Bush hingga keputusan invasi ke Iraq, termasuk kontroversi mengenai klaim senjata pemusnah massal (WMD) dan perubahan citra Saddam Hussein dari sekutu menjadi musuh Amerika.
Setelah serangan September 11 attacks pada 2001, pemerintahan Bush menyebut Iran, Iraq, dan North Korea sebagai “Poros Kejahatan”. Pemerintah AS kemudian berupaya mencari bukti bahwa Irak mengembangkan senjata nuklir. Ketika bukti tersebut tidak ditemukan, tuduhan itu tetap digunakan untuk membenarkan invasi.
Dalam proses tersebut, Menteri Luar Negeri saat itu Colin Powell menjadi tokoh yang menyampaikan klaim tersebut di forum internasional.
Film “W.” juga menggambarkan perbedaan pandangan di dalam Gedung Putih. Powell digambarkan memperingatkan bahwa invasi ke Irak dapat mengacaukan stabilitas kawasan. Namun pandangan tersebut ditentang oleh Cheney dan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, yang meyakini bahwa perang akan memperkuat dominasi Amerika di Asia Barat.
Adegan tentang Iran dan energi global
Dalam salah satu adegan film yang berlangsung di Ruang Situasi Gedung Putih, Cheney memberikan presentasi strategis kepada Bush dan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Condoleezza Rice.
Mengacu pada peta energi global, Cheney dalam adegan tersebut menyatakan bahwa Iran memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia dan berada di jalur strategis Strait of Hormuz, yang dilalui sekitar 40 persen perdagangan minyak dunia.
Menurut dialog dalam film itu, penguasaan Iran berarti pengaruh besar terhadap Eurasia dan sistem energi global.
Seruan untuk literasi media
Penulis artikel menilai bahwa masyarakat perlu menjadi konsumen media yang kritis di tengah arus informasi global yang sangat besar.
Ia menekankan pentingnya mendiskusikan informasi yang diperoleh dari film, media, dan platform digital, agar publik dapat memahami konteks politik dan ideologis di balik narasi yang disajikan.
Hassen Lorgat, penulis artikel ini, merupakan aktivis keadilan sosial dan media yang berbasis di Afrika Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *