Purna Warta – Serangan berdarah yang terjadi kemarin terhadap perayaan Hanukkah komunitas Yahudi di Sydney, Australia, yang hingga kini menewaskan 16 orang dan melukai 40 lainnya, tidak tertutup kemungkinan merupakan sebuah konspirasi yang dirancang oleh rezim Zionis. Gerakan Zionisme sendiri dalam sejarahnya pernah bersekutu dengan tentara Nazi dalam pembantaian terhadap orang-orang Yahudi.
Baca juga: Hamas Peringatkan Rencana Israel untuk “Merekayasa Ulang” Gaza
Terdapat kemungkinan bahwa serangan berdarah terhadap perayaan Hanukkah komunitas Yahudi di Sydney merupakan konspirasi yang dirancang oleh rezim Zionis, dengan tujuan—melalui dalih tersebut dan dalam kerangka strategi yang diperhitungkan—memulihkan citra rezim itu di mata opini publik dunia sebagai sebuah “korban”, serta menghidupkan kembali narasi “antisemitisme” yang mulai kehilangan daya pengaruh akibat genosida yang dilakukan rezim tersebut di Gaza. Lebih dari itu, rezim Zionis juga diduga berupaya menghukum Australia karena telah mengakui Negara Palestina.
Media elektronik Rai al-Youm, dalam tajuk rencana terbarunya yang ditulis oleh Abdel Bari Atwan, menganalisis serangan tersebut dan menulis bahwa musuh terbesar bagi orang Yahudi dan agama Yahudi sejatinya adalah gerakan Zionisme itu sendiri, yang simbol dan figur utamanya saat ini adalah Benjamin Netanyahu. Tangan Netanyahu dan kabinetnya, menurut artikel tersebut, berlumuran darah lebih dari 70.000 warga Palestina, termasuk 40.000 anak-anak. Mereka dituduh menghancurkan lebih dari 95 persen rumah di Jalur Gaza, menyebabkan pengungsian lebih dari 2,5 juta warga Palestina, serta mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza sehingga menjerumuskan banyak orang ke dalam kelaparan hingga meninggal dunia. Pusat-pusat distribusi bantuan pun, menurut tulisan itu, diubah menjadi jebakan maut bagi warga sipil.
Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim Zionis, menuduh pemerintah dan perdana menteri Australia bahwa dengan mengakui Negara Palestina dan mendukung solusi dua negara, mereka telah memicu “antisemitisme” di Australia. Namun, menurut artikel tersebut, tuduhan itu justru mengungkap dirinya sendiri dan kemungkinan perannya dalam serangan tersebut. Netanyahu dinilai melupakan fakta bahwa tentara rezim itu, atas perintah langsung darinya, telah membunuh lebih dari 500 pasien, korban luka, dokter, perawat, dan bayi prematur di Rumah Sakit al-Ma’madani di Gaza dalam waktu kurang dari lima menit, serta menewaskan atau melukai lebih dari 5.000 warga sipil Lebanon dalam waktu kurang dari sepuluh menit, baik melalui serangan pager maupun serangan terhadap desa-desa dan kawasan Dahiyeh selatan Beirut, Bekaa, dan Lebanon selatan.
Artikel tersebut juga menegaskan bahwa gerakan Zionisme dalam sejarahnya pernah bekerja sama dengan tentara Nazi dalam pembantaian terhadap orang-orang Yahudi. Gerakan itu, menurut tulisan tersebut, pernah mengebom bioskop dan kawasan permukiman Yahudi di Mesir dan Irak untuk menebar ketakutan dan memaksa mereka bermigrasi ke Palestina yang diduduki. Dengan rekam jejak semacam itu, tulisan tersebut mempertanyakan mengapa keterlibatan mereka dalam serangan Sydney atau kejahatan di kota-kota Eropa Barat—yang kemudian dituduhkan kepada orang Arab dan Muslim—harus dianggap mengejutkan.
Narasi “antisemitisme”, yang menurut artikel tersebut secara khusus direkayasa untuk memeras negara-negara Barat, menjarah miliaran dolar dari kekayaan bangsa-bangsa Barat, dan menampilkan diri sebagai “korban”, kini dianggap telah terbongkar sebagai kebohongan di hadapan dunia akibat kejahatan rezim Zionis di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Yaman, dan Iran.
Baca juga: Hamas: Pembunuhan Komandan Senior oleh Israel Ancam Gencatan Senjata Gaza
Proyek rasis Zionisme global, tulis artikel itu, justru selalu menerima pukulan terbesar dari para pemimpin arogan, sewenang-wenang, dan haus darahnya sendiri, terutama para penguasa saat ini. Dewasa ini, mayoritas masyarakat dunia disebut telah melepaskan diri dari belenggu propaganda palsu Israel dan berdiri di sisi para korban genosida di Gaza. Bahkan, jutaan orang Yahudi di berbagai belahan dunia dikatakan telah memisahkan diri dari proyek Zionisme dan kejahatannya, serta memandangnya sebagai ancaman bagi keberadaan mereka dan bagi koeksistensi mereka dengan masyarakat tempat mereka tinggal.
Majalah ternama Foreign Affairs dilaporkan satu bulan lalu menerbitkan sebuah artikel tentang “Israel Baru”. Para penulis artikel tersebut menyoroti berbagai fakta, termasuk bagaimana gerakan Zionisme berupaya keluar dari salah satu krisis sejarah paling berbahaya yang dihadapinya, yang intinya adalah memperbaiki kerusakan besar akibat kejahatan mengerikan rezim Zionis di Gaza, menarik kembali dukungan opini publik Barat—terutama para pendukung rezim—serta menghadapi siapa pun yang membongkar kebohongan rezim tersebut, khususnya para penulis, intelektual, dan tokoh berpengaruh dalam opini publik Barat.
Artikel Rai al-Youm menyebut tidak tertutup kemungkinan bahwa serangan kemarin di Sydney merupakan awal dari upaya tersebut. Tidak mustahil, menurut tulisan itu, bahwa demi menghidupkan kembali strategi pencitraan sebagai korban dan narasi “antisemitisme”, serta merebut kembali dominasi atas media sosial dan menekan kebebasan berekspresi dan berpikir, serangan-serangan lain terhadap komunitas Yahudi di negara-negara lain dapat terjadi.
Sebagian besar tawanan Israel yang sekitar dua tahun berada dalam tahanan Hamas, menurut artikel tersebut, telah mengakui perlakuan baik dari pasukan Hamas dan menyatakan tidak mengalami penyiksaan atau penghinaan. Mereka bahkan mengaku bahwa para penjaga membagi jatah makanan mereka dengan para tawanan, meskipun berada dalam kondisi blokade. Sebaliknya, para tawanan dan tahanan Arab di penjara rezim Zionis disebut mengalami berbagai bentuk penyiksaan dan penghinaan, yang menurut tulisan tersebut didukung oleh bukti audio-visual.
Perbedaan antara etika dan keyakinan kaum Muslim dan pihak lawannya, tulis artikel itu, terletak di sini. Mereka yang menikmati penyiksaan terhadap tawanan dengan anjing terlatih serta membuat 40.000 anak dan tahanan kelaparan hingga mati, dianggap tidak akan ragu menyewa pihak-pihak tertentu untuk menyerang peserta perayaan Yahudi di Sydney atau di tempat lain di dunia. Perekrutan individu seperti Abu Shabab di Gaza dan pihak-pihak serupa di Lebanon, Iran, dan negara lain disebut sebagai bukti klaim tersebut.
Artikel itu menutup dengan menyatakan bahwa Netanyahu telah mengalami kegagalan dalam seluruh perang yang dilancarkannya di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Yaman, dan Iran, dan kini tengah mencari dalih untuk memicu perang-perang baru. Tidak tertutup kemungkinan, menurut tulisan tersebut, bahwa serangan di Sydney dan upaya menyalahkan Iran—yang telah mengecam serangan itu—akan dijadikan alasan untuk memulai konflik baru.


