Tehran, Purna warta – Selama lebih dari empat dekade, sanksi Barat telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran dengan tujuan memicu kemarahan publik terhadap pemerintah—sebuah strategi yang secara terbuka diakui oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dalam pertemuan puncak Davos pekan lalu.
Pada akhir bulan lalu, warga di sejumlah kota turun ke jalan untuk memprotes melonjaknya harga, ketidakstabilan pasar, dan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap rumah tangga yang dikaitkan dengan sanksi-sanksi tersebut.
Aksi protes yang awalnya dimulai di Grand Bazaar Teheran itu kemudian disusupi oleh kelompok-kelompok terorganisir yang terhubung dengan jaringan intelijen asing, terutama Amerika Serikat dan Israel.
Para perusuh bersenjata dan teroris membawa pisau, senjata api, serta bahan-bahan pembakar, dan bergerak di jalan-jalan dengan menargetkan fasilitas umum, situs keagamaan, klinik, bank, dan kawasan komersial.
Provinsi Gilan di wilayah utara, khususnya ibu kotanya Rasht, mengalami kerusuhan paling parah. Pada 8 Januari, para perusuh melancarkan aksi kekerasan paling merusak yang pernah disaksikan kota tersebut.
Pada malam itu, kelompok teroris yang didukung asing menargetkan kawasan bersejarah pusat kota Rasht. Otoritas setempat dan saksi mata melaporkan pembakaran puluhan masjid, kantor pemerintahan, cabang bank, serta hampir 400 toko di bazar terkenal kota tersebut.
Di antara lokasi yang diserang adalah Klinik Imam Sajjad, sebuah pusat layanan medis publik yang melayani lingkungan sekitar. Perawat Marzieh Nabavi-Nia secara tragis kehilangan nyawanya setelah dibakar hidup-hidup, ketika para perusuh membakar sebagian bangunan dan memblokir jalan-jalan, sehingga memperparah dampak serangan.
Serangan terhadap klinik medis
Kesaksian warga setempat dan rekan kerja Nabavi-Nia menggambarkan serangan cepat dan terkoordinasi oleh teroris bersenjata berat yang menerima instruksi dari luar negeri.
Sekelompok perusuh bersenjata yang didukung asing menyergap Klinik Imam Sajjad, membakar gedung tersebut, dan menghalangi tim penyelamat untuk masuk selama berjam-jam.
Di dalam klinik, kepanikan menyebar ke seluruh bangsal. Para staf berteriak memperingatkan satu sama lain untuk melarikan diri ketika asap memenuhi lorong-lorong. Namun, menurut saksi, perawat Marzieh Nabavi-Nia (31 tahun) tetap berada di sisi seorang anak yang masih terhubung dengan infus, meskipun api terus menjalar.
“Ayo pergi! Mereka datang!” seorang rekan dilaporkan berteriak kepadanya.
“Biarkan anak ini selesai dulu, setelah itu saya menyusul,” jawab Nabavi-Nia.
Ketika api semakin membesar, jalur evakuasi terputus. Meskipun staf dan warga setempat berhasil menyelamatkan empat pasien dan sejumlah tenaga medis, perawat muda tersebut terjebak di dalam gedung.
Berdasarkan bukti yang ada, para perusuh bertindak dengan dukungan jaringan intelijen asing, dan serangan terhadap klinik tersebut merupakan bagian dari operasi terkoordinasi yang mencakup beberapa provinsi.
Dalam pidato di pemakaman saudarinya, Masomeh Nabavi-Nia secara langsung menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kematian tragis saudarinya.
“Sejak perang 12 hari, dia secara resmi bertanggung jawab atas operasi militer terhadap rakyat Iran,” ujarnya. Masomeh juga menyebut Reza Pahlavi, yang ia gambarkan sebagai seorang “pangeran” bodoh dan pengkhianat, sebagai pihak yang turut bertanggung jawab atas kematian saudarinya.
“Dialah yang bertanggung jawab atas kematian para korban pada Kamis dan Jumat lalu di Iran kami,” kata sang kakak dengan penuh duka.
Saudara laki-laki Nabavi-Nia, Majid Nabavi-Nia, menggambarkan momen ketika keluarga menyadari kenyataan pahit dari serangan tersebut dan kematian saudarinya.
“Ketika kami melihat peti jenazahnya yang kecil, kami memahami besarnya tragedi yang terjadi,” katanya, menggambarkan keterkejutan dan kesedihan yang menyelimuti keluarga saat menyadari bagaimana serangan itu merenggut nyawa saudari mereka yang sangat berbakti kepada keluarga.
Anak bungsu keluarga
Nabavi-Nia merupakan anak bungsu dalam keluarganya dan ibu dari seorang putri berusia tiga tahun bernama Zainab. Ibunya, Mariam Mirzaei, menggambarkannya sebagai sosok yang rajin belajar, berhati lembut, dan sangat berdedikasi pada pekerjaannya.
“Marzieh menyelesaikan masa magangnya di Rumah Sakit Al-Zahra selama pandemi COVID-19 sebelum bergabung dengan Klinik Imam Sajjad,” ujar Mirzaei dengan suara tertahan.
Ayahnya, Mohammad Nabavi-Nia, mengatakan bahwa putrinya mempelajari kebidanan dan keperawatan, namun memilih bekerja sebagai perawat.
“Ia merasa profesi ini akan membantunya melayani orang-orang yang menderita. Ia memandang pelayanan kepada pasien sebagai tanggung jawabnya,” kata sang ayah kepada media.
Keluarganya menggambarkan Marzieh sebagai seseorang yang memandang profesi perawat lebih dari sekadar pekerjaan.
Mereka mengenang bahwa Nabavi-Nia memperlakukan setiap pasien dengan rasa tanggung jawab yang sama seperti yang ia tunjukkan di rumah, sering kali tinggal lebih lama dari jam kerjanya untuk memastikan tidak ada pasien yang terabaikan.
Dedikasinya terhadap pelayanan merupakan cerminan dari kepribadiannya, demikian penuturan keluarga.
“Ia rutin mengikuti kegiatan keagamaan, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, menjalankan puasa sunnah, dan bersama suaminya menziarahi makam para syuhada,” kata ibunya, menggambarkan perawat muda yang imannya membentuk keseharian hidupnya.
Pada hari-hari setelah aksi terorisme keji tersebut, warga berkumpul di lokasi bekas Klinik Imam Sajjad, memanjatkan doa dan menyampaikan belasungkawa.
Suami Nabavi-Nia termasuk di antara mereka yang datang. Menurut sang ibu, kini ia rutin mengunjungi makam para syuhada setiap hari untuk mengenang istrinya.
Putri mereka, Zainab, sering mengatakan kepada neneknya bahwa ia bermimpi ibunya menggambari sesuatu untuknya. Anak berusia tiga tahun itu kerap bertanya tentang ibunya, mengenang kasih sayang dan perhatian yang pernah ia terima.
Perawat yang dikenal penuh pengabdian
Di mata rekan-rekannya, Nabavi-Nia adalah simbol ketenangan dan dedikasi. Mereka menggambarkannya sebagai sosok yang fokus dan tenang bahkan dalam situasi paling sulit, selalu memperhatikan kebutuhan pasien dan bersedia melampaui tugasnya demi memastikan perawatan yang layak.
Para staf mengenang bagaimana ia tetap tegar bersama pasien dan bertahan di posnya meskipun situasi semakin berbahaya.
Fatemeh Jafarpoor, rekan kerja yang bertanggung jawab atas penjadwalan perawat, mengingat percakapannya dengan Nabavi-Nia hanya beberapa jam sebelum serangan teroris terjadi.
Ketika klinik diserang, Jafarpoor berulang kali menghubungi nomor Nabavi-Nia dengan harapan mendapatkan jawaban.
“Ia berada di lantai delapan. Ia tidak bisa berbicara dengan jelas. Ia berbisik, ‘Maafkan aku,’” kenang Jafarpoor, menggambarkan momen-momen terakhir rekannya. Ia mengatakan bahwa dirinya mengetahui kematian Nabavi-Nia pada pukul 03.00 dini hari.
Jafarpoor menggambarkan Nabavi-Nia sebagai tipe perawat yang diimpikan setiap pengelola—tepat waktu, tenang, dan sangat teliti.
“Ia selalu salat tepat waktu dan membaca Al-Qur’an. Ia berkomitmen penuh pada setiap pasien yang ia tangani,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Nabavi-Nia kerap menyebut pekerjaannya di Klinik Imam Sajjad bukan sekadar profesi, melainkan panggilan spiritual yang terinspirasi oleh teladan Sayyidah Fatimah (SA).
Kematian tragis Nabavi-Nia kini menjadi simbol peristiwa malam tersebut. Warga setempat menunjuk pembunuhannya sebagai contoh nyata bagaimana aksi protes yang awalnya damai dengan cepat dibajak oleh kelompok teroris yang beroperasi dengan dukungan badan intelijen Amerika Serikat dan Israel, sehingga membuat warga sipil dan institusi publik berada dalam bahaya.
Kematian Nabavi-Nia, bersama dengan penghancuran masjid, kantor pemerintahan, bank, dan ratusan toko, menyoroti besarnya korban kemanusiaan dari serangan terkoordinasi yang didukung asing tersebut serta risiko yang dihadapi warga Iran yang tidak bersalah di tengah terorisme yang didukung Amerika Serikat.
Oleh Humaira Ahad


