“Dari India ke Kush”: Apa Strategi Netanyahu di India?

Netanyahu

Purna Warta – Al-Alam News Network dalam sebuah editorial membahas perubahan strategis dari slogan “Dari Efrat ke Nil” menjadi “Dari India ke Kush.” Perubahan ini menunjukkan bukan hanya perluasan aspirasi Israel di geografi regional, tetapi juga transformasi mendasar dari pendekatan pendudukan wilayah menjadi kontrol jaringan global atas kekuatan, sumber daya, dan jalur strategis.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan terbaru menggunakan istilah “Dari India ke Kush,” yang menandakan perubahan strategis. India, sebagai kekuatan teknologi dan pertahanan di Asia Timur, diposisikan sebagai mitra strategis Israel. Sementara Kush—atau Ethiopia modern—dilihat sebagai wilayah kaya sumber daya mineral dan air di Afrika Selatan. Israel menempatkan dirinya sebagai titik koneksi dalam jaringan ini, dari teknologi dan pertahanan hingga jalur sumber daya global.

Dalam perspektif sejarah dan kitab suci, Kush bukan sekadar wilayah Afrika Selatan; ia muncul dalam teks Taurat sebagai wilayah simbolis yang kaya sumber daya dan terkait dengan sungai-sungai penting. Penggunaan istilah Kush alih-alih Ethiopia menunjukkan pergeseran Israel dari peta politik tradisional ke peta “peradaban,” di mana geografi dipahami secara luas dan transnasional. Wilayah ini meliputi sumber air Sungai Nil, emas, dan mineral berharga, sehingga kehadiran strategis Israel di sana dapat berdampak pada keseimbangan air, energi, dan stabilitas populasi Mesir.

Peran India juga penting, sebagai kekuatan teknologi, pertahanan, dan kecerdasan buatan yang berkembang, menjadi mitra strategis Israel. Dengan menghubungkan India dan Kush, Netanyahu menciptakan koridor strategis dari Asia Timur hingga Afrika Selatan yang kaya sumber daya, dengan Israel sebagai titik penghubung utama.

Perlu dicatat bahwa ekspansi pengaruh Israel ini juga terkait dengan dinamika kekuatan global: China telah lama menekankan jalur perdagangan dan pelabuhan di Afrika Timur melalui proyek “Belt and Road,” sementara India menjadi pesaing geopolitik China di Asia Selatan. Kerja sama Israel-India menjadi bagian dari persaingan global atas jalur dan jaringan komunikasi strategis, bukan sekadar perubahan posisi regional Israel.

Amerika Serikat juga memainkan peran kunci dalam logika kontrol jaringan global ini, menggunakan Israel sebagai pusat teknologi militer dan penghubung antara Laut Mediterania dan Teluk Persia, yang memungkinkan integrasi dengan aliansi strategis India-Emirat-Arab-Barat.

Slogan baru ini menandai pergeseran dari kontrol wilayah tradisional (“Dari Efrat ke Nil”) ke pengelolaan jaringan global sumber daya, teknologi, dan aliran informasi. Kush bukan lagi sekadar wilayah, melainkan simbol historis dan strategis yang memberi legitimasi internal bagi kebijakan Israel dan menegaskan bahwa ekspansi ini adalah kesinambungan historis, bukan kebijakan sementara.

Sejarah migrasi juga diperhitungkan: keturunan Kush tersebar dari Mesopotamia (Irak modern) hingga Ethiopia dan India, dengan beberapa kelompok bermigrasi ke Malaysia dan Australia. Netanyahu, melalui strategi “Dari India ke Kush,” menekankan kontrol Israel terhadap jaringan global, bukan sekadar wilayah yang diduduki.

Dengan demikian, slogan baru ini menunjukkan transformasi pendekatan rezim Israel dari dominasi wilayah ke dominasi jaringan global: dari persaingan atas batas negara menjadi persaingan atas aliran sumber daya, teknologi, jalur laut, kecerdasan buatan, dan sumber daya air, yang kini menjadi inti strategi Israel dalam tatanan dunia multipolar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *