Apakah Nasib Erdoğan Sedang Berulang bagi İmamoğlu?

Purna WartaPresiden Turki Erdoğan menyebut para demonstran dan oposisi sebagai “teroris jalanan”, tetapi banyak mahasiswa dari berbagai universitas di negara itu terus melanjutkan demonstrasi dan memboikot kelas.

Menurut laporan dari bagian internasional kantor berita Tasnim, demonstrasi jalanan di berbagai kota di Turki masih berlangsung. Selain ratusan warga yang ikut berdemonstrasi, puluhan anggota polisi juga terluka. Penangkapan dan pemenjaraan Ekrem İmamoğlu, wali kota Istanbul sekaligus rival potensial Erdoğan dalam pemilihan presiden mendatang, telah mengguncang Turki. Ketegangan dan kekerasan dalam aksi protes ini belum pernah terjadi dalam 10 tahun terakhir.

Pemberhentian dan Pemenjaraan İmamoğlu

Pemberhentian dan pemenjaraan İmamoğlu beserta lebih dari lima puluh wakil dan pejabat senior pemerintah kota Istanbul atas tuduhan korupsi keuangan telah memicu kemarahan pendukungnya. Partai Republik Rakyat (CHP), yang merupakan oposisi utama Erdoğan dan pendukung İmamoğlu, telah menyerukan aksi demonstrasi jalanan.

Namun, Erdoğan menyebut para demonstran dan oposisi sebagai “teroris jalanan” serta meminta Özgür Özel, ketua CHP, untuk memulangkan para pendukungnya. Dalam salah satu aksi massa di Istanbul tadi malam, Özel menyatakan:
“Tempat kami ada di sini, di alun-alun dan jalanan di seluruh Turki.”

Peningkatan Penangkapan Demonstran

Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, mengumumkan bahwa dalam lima hari terakhir, sebanyak 1.133 orang telah ditangkap dalam aksi protes jalanan yang dilakukan oleh para pendukung İmamoğlu. Yerlikaya juga melaporkan bahwa sejauh ini, 123 petugas polisi terluka akibat lemparan batu dari para demonstran, yang juga menggunakan pentungan, asam, bom molotov, kapak, dan pisau.

Sementara Erdoğan menyebut demonstran jalanan sebagai teroris, banyak surat kabar yang dekat dengan partai berkuasa hari ini ikut mendukung narasi Erdoğan, mengklaim bahwa lebih dari 12 organisasi teroris terlibat dalam memicu aksi protes di Turki.

CHP menegaskan bahwa berdasarkan Pasal 34 Konstitusi Turki, rakyat berhak untuk melakukan aksi protes. Namun, Menteri Dalam Negeri Turki menanggapi dengan mengatakan:
“Pasal 34 hanya berlaku untuk protes yang damai dan tanpa senjata. Anda tidak berhak menghasut rakyat untuk melakukan kekerasan.”

Penangkapan 138 Pengguna X dan Instagram

Kejaksaan Turki mengumumkan bahwa mereka telah membentuk tim pemantauan khusus untuk mengawasi dan mengklasifikasikan konten yang mendorong kekerasan di media sosial. Dalam 48 jam terakhir, tim ini telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap lebih dari 150 orang, di mana 138 di antaranya telah ditangkap.

Tiga orang dari mereka dijebloskan ke penjara dengan tuduhan menyebarkan konten yang menghasut kekerasan dan mengganggu ketertiban serta keamanan. Enam orang lainnya dijatuhi hukuman tahanan rumah dengan pemakaian gelang kaki elektronik, sementara lima orang dibebaskan setelah memberikan jaminan. Kasus para tersangka lainnya masih dalam penyelidikan, dan lebih banyak penangkapan diperkirakan akan terjadi.

Penghinaan terhadap Keluarga Erdoğan

Salah satu penyebab utama meningkatnya kekerasan dan bentrokan fisik, khususnya di Istanbul, adalah munculnya slogan-slogan yang menghina dan mencemooh keluarga Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Hal ini telah memicu kemarahan banyak anggota kepolisian dan berujung pada bentrokan fisik.

Ketua CHP, Özgür Özel, mengecam tindakan penghinaan terhadap keluarga presiden dan menegaskan:
“Setiap warga yang hanya ingin menghina dan mencemooh, bukan bagian dari kami. Kami hanya menuntut hak-hak demokratis kami.”

Mantan Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoğlu, juga mengecam tindakan penghinaan terhadap keluarga Erdoğan, menyerukan sikap etis, kesabaran, dan ketenangan. Sementara itu, Menteri Kehakiman Yılmaz Tunç, Menteri Dalam Negeri Ali Yerlikaya, serta juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Ömer Çelik, mengutuk konten penghinaan terhadap keluarga Erdoğan dan memperingatkan bahwa pelakunya akan menghadapi hukuman berat.

Apakah Nasib Erdoğan Sedang Berulang?

Erdoğan adalah politisi yang pernah dipenjara setelah menjabat sebagai wali kota Istanbul, sebelum akhirnya menjadi perdana menteri dan presiden. Karena itu, banyak warga dan cendekiawan Turki yang mengatakan bahwa sejarah kini tengah berulang untuk Ekrem İmamoğlu.

Prof. İlber Ortaylı, seorang peneliti dan sejarawan terkenal Turki yang kini mendukung İmamoğlu, berkomentar:
“Banyak politisi Turki yang pertama kali masuk penjara sebelum akhirnya naik ke tampuk kekuasaan. Tahun demi tahun berlalu, tetapi metodenya tetap sama. Kita sedang menjalani hari-hari bersejarah, dan sejarah ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Ini bukan hanya masalah satu partai politik, pemerintah, atau oposisi. Ini adalah masalah nasional. Masa depan anak-anak dan generasi muda kita terancam, dan ini adalah tanggung jawab bersama kita semua.”

Ortaylı menambahkan:
“Saya khawatir tentang masa depan generasi muda Turki. Bagaimana dengan pekerjaan mereka, harapan mereka, dan hak-hak mereka? Semua tanda menunjukkan bahwa kita hidup di masa-masa bersejarah. Hak memilih dan kehendak politik rakyat tidak boleh dilecehkan. Pesan rakyat sudah jelas: mereka yang naik melalui pemilu, hanya boleh turun melalui pemilu, bukan melalui ancaman atau pemenjaraan.”

Babacan: Ini adalah Perubahan Rezim

Ali Babacan, ketua Partai DEVA (Partai Kemajuan dan Demokrasi), yang merupakan pendukung İmamoğlu sekaligus kritikus keras Erdoğan, dalam acara buka puasa bersama para pendukungnya di Izmir kemarin mengatakan:
“Apa yang terjadi di Turki saat ini, secara praktis adalah perubahan rezim. Erdoğan telah mengubah sistem politik dan eksekutif negara dari parlementer menjadi presidensial, memberinya kekuasaan yang sangat besar. Sekarang, ia menggunakan kekuasaan yudisial untuk memenjarakan lawan politiknya. Ini adalah perubahan rezim yang nyata dan tidak bisa diterima. Erdoğan secara terang-terangan menyatakan: ‘Selama saya masih sehat, saya akan tetap menjabat.’ Ini bukan pernyataan seorang demokrat, tetapi pernyataan pemimpin rezim otoriter. Kata-kata ini telah menghancurkan harapan rakyat akan perubahan melalui kotak suara, itulah sebabnya mereka turun ke jalan.”

“Negara Ini Menuju Kehancuran”

Emre Kongar, seorang analis senior dari harian Cumhuriyet di Ankara, mengomentari sistem politik Turki saat ini dan cara Erdoğan menghadapi oposisi:
“Erdoğan pada dasarnya telah menciptakan negara pribadi. Dengan kedok sistem presidensial, ia telah mengubah struktur negara menjadi kekuasaan absolut seorang individu tanpa mekanisme kontrol dan keseimbangan. Bahkan jika tidak ada masalah lain, sistem ini pasti akan runtuh! Erdoğan telah memaksakan kepribadiannya ke seluruh masyarakat dan menghapus prinsip netralitas, keselarasan, kesetaraan, dan keadilan.”

Ia melanjutkan:
“Apa keadilan yang bisa kita harapkan jika wali kota dari partai oposisi dengan mudah dipenjara, sementara tidak ada pengawasan atas berbagai pelanggaran pejabat dari partai berkuasa? Negara ini sedang menuju kehancuran karena rezim ini bertentangan dengan prinsip dasar keberlanjutan politik.”

Sementara itu, analis politik pro-pemerintah berpendapat bahwa aksi protes di berbagai kota akan mereda dalam beberapa hari mendatang. Namun, para kritikus Erdoğan meyakini bahwa masa sulit bagi politik dan demokrasi Turki baru saja dimulai, dengan krisis politik dan ekonomi yang akan terus berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *