Addis Ababa, Purna Warta – “Israel” dan Ethiopia tengah mengambil langkah-langkah konkret untuk memperdalam hubungan diplomatik dan strategis mereka. Upaya ini ditandai dengan pertemuan pejabat tinggi kedua pihak guna membahas tantangan regional serta peluang kerja sama, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Tanduk Afrika.
Pada Senin, “Israel” menyebut Ethiopia sebagai “mitra strategis jangka panjang” dan menyatakan komitmennya untuk memperkuat hubungan bilateral. Pernyataan ini disampaikan menyusul pertemuan antara Menteri Luar Negeri “Israel” Gideon Saar dan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Ethiopia, Hadera Abera Admassu.
Admassu tiba di “Israel” untuk kunjungan dengan durasi yang tidak disebutkan. Dalam pertemuan tersebut, kedua pejabat membahas tantangan kawasan serta peluang kerja sama bilateral. Melalui unggahan di platform X, Saar menggambarkan pertemuan itu sebagai “sangat baik” dan menegaskan niat Tel Aviv untuk “semakin memperkuat hubungan” dengan Addis Ababa.
Pertemuan ini berlangsung di tengah perselisihan Ethiopia dengan Mesir, Sudan, Somalia, dan Eritrea terkait isu perbatasan, keamanan air, serta akses jalur maritim. Kondisi tersebut menegaskan nilai strategis kemitraan Ethiopia dengan “Israel” di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Ethiopia dan “Israel” Hidupkan Kembali Hubungan Bilateral
Sebelumnya, pada 8 Mei 2025, Ethiopia dan “Israel” secara resmi menghidupkan kembali hubungan bilateral mereka dengan menitikberatkan pada kerja sama ekonomi. Kedua pihak menyoroti kesamaan ambisi di bidang inovasi, pertanian, dan pembangunan berkelanjutan.
Kemitraan yang diperbarui itu diluncurkan dalam Forum Bisnis Ethiopia–Israel di Addis Ababa, yang dihadiri pejabat pemerintah senior, pelaku usaha, dan investor dari kedua negara. Forum tersebut membahas proyek potensial, menjajaki peluang baru, serta memperkuat hubungan ekonomi bilateral.
Namun, kebangkitan kerja sama ini terjadi di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap entitas “Israel”, yang pada saat pengumuman tersebut tengah menjalankan kampanye militer di Gaza yang telah menewaskan hampir 53.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Upaya “Israel” Perluas Pengaruh di Tanduk Afrika
Langkah penguatan hubungan dengan Ethiopia sejalan dengan upaya “Israel” untuk memperluas jejak dan pengaruhnya di kawasan Tanduk Afrika, termasuk melalui pengakuan terhadap wilayah separatis Somaliland.
Otoritas pendudukan “Israel” secara resmi mengakui Republik Somaliland sebagai negara “merdeka” dan “berdaulat” melalui deklarasi bersama yang ditandatangani Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri Gideon Saar, dan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdallah.
Somaliland menjadi tuan rumah kehadiran militer besar Uni Emirat Arab di Berbera, yang dikembangkan untuk memproyeksikan kekuatan di Tanduk Afrika dan Laut Merah selatan. Fasilitas ini mendukung operasi terkait Yaman, membatasi ruang gerak Ansar Allah, serta mengamankan jalur pelayaran strategis—kepentingan yang dinilai selaras dengan kepentingan “Israel”.
Para perencana militer AS telah lama memandang Somaliland sebagai pusat logistik strategis dekat Selat Bab al-Mandab. Sementara itu, pejabat keamanan “Israel” dilaporkan mengincar akses dan kerja sama intelijen untuk memantau lalu lintas Laut Merah serta pergerakan kelompok perlawanan di Yaman dan Tanduk Afrika.
Pengakuan tersebut dinilai sejalan dengan arsitektur keamanan kawasan, memberikan legitimasi politik atas kehadiran militer dan intelijen yang telah mengakar, serta memposisikan “Israel” bersama Washington dan Abu Dhabi dalam membentuk keamanan Laut Merah, mengendalikan jalur maritim, menekan Ansar Allah, dan memperkuat blok regional dari Palestina yang diduduki hingga Afrika Timur.
Selain itu, muncul pula spekulasi bahwa “Israel” dapat memanfaatkan Somaliland sebagai lokasi relokasi paksa warga Palestina dari Gaza, sejalan dengan rencana “Gaza Riviera” yang dikaitkan dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Seorang pakar “Israel” bidang urusan Amerika, Eido Dambin, mengatakan kepada iNEWS24 pada 27 Desember 2025 bahwa Somaliland sempat diusulkan sebagai salah satu lokasi potensial untuk menampung warga Gaza dalam kerangka rencana tersebut.


