Tahanan Global Sumud Flotilla Lakukan Mogok Makan Usai Serangan Israel

Global Sumud

Al-Quds, Purna Warta – Para aktivis dari Global Sumud Flotilla melakukan aksi mogok makan setelah mereka diculik oleh pasukan Israel di perairan internasional saat berusaha membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menembus blokade Israel terhadap wilayah tersebut.

Baca juga: Puluhan Ribu Orang di Italia, Yunani, dan Negara Lain Protes Serangan Israel terhadap Armada Bantuan Gaza

Pada Jumat, Komite Internasional untuk Mematahkan Pengepungan Gaza menyatakan bahwa sejumlah aktivis yang ditahan di atas kapal mengumumkan bahwa mereka telah memulai mogok makan tanpa batas waktu sejak penahanan berlangsung.

Pengumuman ini muncul setelah militer Israel merebut kapal terakhir dari armada Global Sumud Flotilla, yang sebelumnya berjumlah 44 kapal.

Siaran langsung memperlihatkan pasukan Israel memaksa naik ke atas Marinette berbendera Polandia, yang dilaporkan memiliki enam kru, pada Jumat pagi.

Melalui panggilan video dengan penyelenggara flotilla pada Kamis malam, kapten asal Australia yang hanya menyebut dirinya sebagai Cameron, menjelaskan bahwa kapal tersebut sempat mengalami masalah mesin sehingga tertinggal dari kelompok utama.

Ia mengatakan bahwa kapal kini “melaju” menuju Gaza.
“Kami punya sejumlah orang Turki yang sangat tangguh di kapal ini… ada seorang perempuan dari Oman, juga saya sendiri, dan kami akan terus melanjutkan perjalanan ke arah Gaza,” tambah Cameron.

Menurut pelacak posisi kapal secara langsung, kapal tersebut dicegat di perairan internasional Laut Mediterania, sekitar 43 mil laut (sekitar 80 km) dari perairan teritorial Gaza.

Sejak Rabu, angkatan laut Israel secara ilegal telah mencegat kapal-kapal flotilla yang mendekati Gaza, menahan sekitar 500 aktivis dari lebih 40 negara.

Sejumlah tokoh terkenal, termasuk aktivis Swedia Greta Thunberg, mantan wali kota Barcelona Ada Colau, serta anggota Parlemen Eropa Rima Hassan, termasuk di antara mereka yang diculik.

Serangan Israel ini memicu gelombang protes di berbagai penjuru dunia, termasuk di sejumlah negara Eropa seperti Italia, Belgia, dan Skotlandia.

Baca juga: Israel Menculik Perawat di Gaza dalam ‘Pelanggaran Nyata’ terhadap Hukum Kemanusiaan

Sejak 2 Maret, ketika Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, rezim tersebut menutup seluruh perlintasan perbatasan menuju Gaza, memblokir masuknya bantuan kemanusiaan dan memperparah krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah di wilayah itu.

Blokade brutal tersebut telah menyebabkan jumlah korban tewas terkait kelaparan mencapai 453 orang, termasuk 150 anak-anak.

Sejak melancarkan perang genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023, Israel telah menewaskan sedikitnya 66.225 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *