Gaza, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina, Hamas, mengatakan bahwa pembicaraan delegasi seniornya dengan para pejabat Mesir di Kairo berfokus pada penguatan gencatan senjata di Gaza serta memastikan Israel mematuhi komitmen berdasarkan apa yang disebut sebagai “rencana perdamaian” yang didukung Amerika Serikat.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan pada Minggu bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari kontak berkelanjutan kelompok itu dengan para mediator serta upaya diplomatik terkait situasi di Gaza.
Ia mengatakan Hamas akan memanfaatkan pembicaraan tersebut untuk menyampaikan kepada mediator Mesir mengenai berbagai pelanggaran yang dilakukan Israel serta mengupayakan jaminan agar Israel mematuhi peta jalan yang telah disepakati dengan apa yang disebut “Dewan Perdamaian” (Board of Peace).
Secara terpisah, seorang pejabat Hamas mengatakan pada Sabtu bahwa delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Kepala Hamas, Khalil al-Hayya, dijadwalkan berangkat ke Kairo pada Minggu untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Mesir. Delegasi tersebut diperkirakan akan membahas langkah-langkah untuk memperkuat gencatan senjata.
Pembicaraan tersebut berlangsung ketika gencatan senjata di Gaza, yang telah berlaku sejak Oktober 2025, masih berada dalam kondisi rentan. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa serangan Israel terus berlangsung meskipun telah ada gencatan senjata, menewaskan sedikitnya 1.260 warga Palestina dan melukai lebih dari 4.100 orang.
Angka tersebut merupakan tambahan dari jumlah korban akibat perang Israel di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Menurut otoritas Palestina, perang tersebut telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya.
Sebagai bagian dari rencana perdamaian yang didukung Amerika Serikat, Hamas pada awal Juli mengumumkan bahwa mereka akan membubarkan badan pemerintahan yang telah dijalankannya di Gaza selama hampir dua dekade.
Hamas kemudian menyatakan kesiapannya untuk menyerahkan kewenangan kepada badan pemerintahan teknokratis.
Namun, rezim Israel telah mencegah badan tersebut memasuki Gaza untuk mulai menjalankan tugasnya.
Rezim Israel juga terus melancarkan serangan di Gaza sejak rencana tersebut diluncurkan, sekaligus tetap memberlakukan pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan.


