Tehran, Purna Warta – “Iran Buktikan Mampu Hadapi AS dan Israel Secara Bersamaan” Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, yang pernah memimpin IRGC setelah kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara televisi pada Selasa.
Baca juga: AS ‘Berharap’ Israel dan Hamas Capai Kesepakatan Gencatan Senjata 60 Hari pada Akhir Pekan Ini
Aksi balasan yang sukses itu, menurutnya, mengingatkan pada ucapan terkenal Letjen Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds IRGC:
“Akulah orang yang bisa menantang kalian.”
“Hal itu benar-benar terbukti,” ujar Rezaei, yang saat ini juga menjabat sebagai anggota Dewan Kebijaksanaan yang memberikan nasihat kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Pada 13 Juni, rezim Israel meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap Iran, dengan dukungan militer dan intelijen dari Amerika Serikat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Iran merespons dengan cepat, mengawali dengan manuver pertahanan menyeluruh, dan kemudian meluncurkan serangan balasan cepat dan tiada henti.
Aksi balasan yang diberi sandi Operasi Janji Sejati III (True Promise III) itu menghantam dengan presisi mematikan wilayah pendudukan Palestina, menargetkan situs-situs vital nuklir, militer, dan industri.
Ratusan rudal balistik — banyak di antaranya supersonik dan berpeledak majemuk — diluncurkan bersama dengan kawanan drone bersenjata, menghantam pusat-pusat penting seperti Tel Aviv (jantung ekonomi rezim), Haifa (pelabuhan laut dalam utama), dan Be’er Sheva (pusat teknologi rezim Zionis).
Di bawah tekanan berat dari serangan balasan Iran, rezim tersebut terpaksa mengajukan gencatan senjata hanya dalam waktu 12 hari, meski telah mengerahkan seluruh sistem pertahanan rudalnya, termasuk sistem paling canggih milik Amerika Serikat.
Baca juga: Hamas: Israel Bunuh 6 Mantan Tahanan Palestina di Gaza sebagai Bagian dari ‘Kebijakan Balas Dendam’
Media Israel bahkan melaporkan bahwa kota Bat Yam, yang terletak di sepanjang pesisir Laut Tengah wilayah pendudukan, mengalami kerusakan parah dan menyerupai pemandangan kehancuran di Jalur Gaza.
Iran juga menargetkan pangkalan udara al-Udeid — pangkalan militer utama AS di kawasan yang terletak di Qatar — sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran di penghujung perang yang dipicu oleh Israel.
“Tak Ada Negara Berani Serang AS Seperti Iran”
Rezaei menegaskan bahwa “tidak ada negara yang berani melakukan serangan seperti itu” terhadap AS, merujuk pada serangan balasan terhadap al-Udeid.
“Bahkan negara seperti Cina pun tidak berani melakukan serangan seperti itu,” tegasnya.
Ia juga membantah klaim pejabat AS bahwa hanya satu rudal Iran yang mengenai target di pangkalan tersebut, dengan mengutip sumber Qatar yang melaporkan lima hingga enam ledakan terjadi di lokasi.
“Iran Sedang Menuju Puncak”
Rezaei mengatakan bahwa keseluruhan aksi Iran merupakan “pertunjukan kekuatan” dan telah menyebabkan “kenaikan posisi Iran di kawasan.”
“Dalam arti tertentu, kita telah memulai pendakian menuju puncak. Tapi yang penting adalah tidak berhenti, meskipun Israel dan AS berusaha keras untuk menghentikan kita.”
Aksi tersebut juga membuktikan kepada banyak negara di kawasan bahwa Republik Islam Iran adalah mitra yang dapat diandalkan.
Kegagalan Israel-AS yang Bertubi-tubi
Rezaei menjabarkan serangkaian kegagalan AS dan Israel selama agresi gabungan mereka:
Mereka menghabiskan waktu setahun penuh merencanakan serangan, bahkan melakukan simulasi di Yunani dan Laut Tengah.
Mereka gagal mencapai target utama, yaitu melukai Pemimpin Tertinggi Iran atau anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Mereka gagal menciptakan kekacauan internal, memasukkan elemen kontra-revolusi ke Teheran, dan menghancurkan integritas nasional Iran.
Mereka gagal melumpuhkan total infrastruktur militer Iran, seperti yang mereka lakukan di Suriah dalam eskalasi sebelumnya.
Mereka gagal menguasai wilayah udara Iran.
Rezaei juga mencatat bahwa perang tersebut menghabiskan dana sebesar $20 miliar bagi Israel, serta menyebabkan habisnya stok rudal pencegat Amerika Serikat yang telah diproduksi selama lebih dari dua tahun dengan biaya astronomis.
“Semua kekalahan Israel adalah kemenangan bagi kami,” tegas Rezaei,
“baik dari sisi biaya yang mereka tanggung, runtuhnya sistem keamanan mereka, maupun kegagalan mereka meraih tujuan apa pun.”


