Jakarta, Purna Warta – Wakil Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Jualiantono, berkoordinasi dengan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, pada Selasa (8/7/2025), untuk membahas pengembangan apotek dan klinik desa. Pertemuan ini menunjukkan komitmen Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam mendukung operasional fasilitas kesehatan di tingkat desa.
Baca juga: Kuasa Hukum Bantah Dahlan Iskan Tersangka, Pertanyakan Kebenaran Informasi yang Beredar
Hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi beserta jajaran petinggi Madya dan Pratama dari kedua kementerian. Diskusi utama berpusat pada gerai apotek dan klinik desa sebagai bagian dari upaya mendukung Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP).
Wakil Menteri Koperasi dan UKM itu menekankan pentingnya masukan dari Kemenkes terkait berbagai aspek, seperti model bisnis yang sesuai, data calon klinik, integrasi dengan layanan kesehatan yang sudah ada, serta regulasi dan ketersediaan tenaga medis. Menurutnya, hal ini krusial untuk memastikan 103 mock up KDKMP di seluruh provinsi dapat menyediakan layanan kesehatan dan obat murah secara optimal bagi masyarakat desa.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah mengungkapkan rencana pemerintah untuk mengintegrasikan 54.000 unit fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas pembantu (Pustu) hingga pos kesehatan desa (poskesdes), ke dalam sistem Koperasi Desa Merah Putih.
Baca juga: Dampak Signifikan Tarif AS 32% terhadap Ekonomi Indonesia: Ancaman PHK dan Penurunan Ekspor
Dalam acara Sosialisasi Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2025 tentang Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (14/4), Budi menyatakan, “Nah 54 ribu ini udah ada bikin regulasi bahwa pustu, poskesdes, Koperasi Desa Merah Putih itu satu sistem. Sehingga dengan demikian semua program yang ada sekarang anggarannya, asetnya, SDM-nya, prosedurnya yang udah ada sekarang bisa langsung diteruskan.”
Integrasi ini bertujuan agar pemerintah tidak perlu membangun ulang unit usaha klinik di desa dari awal, melainkan memanfaatkan dan mengoptimalkan infrastruktur yang sudah ada.


