Jakarta, Purna Warta – Perang antara Thailand dan Kamboja yang pecah di perbatasan kedua negara, tepatnya di wilayah Segitiga Zamrud tempat perbatasan Thailand, Kamboja, dan Laos bertemu, serta lokasi beberapa kuil kuno, menimbulkan kekhawatiran serius. Sebagian besar korban tewas dilaporkan adalah warga sipil, dengan hanya satu korban yang teridentifikasi sebagai tentara Thailand.
Baca juga: BRI Dukung Program Makan Bergizi Gratis melalui Pembiayaan UMKM Lokal
Sebagai negara tetangga, Indonesia perlu mempertimbangkan dampak ekonomi jika konflik ini berlarut-larut. Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa konflik tersebut akan memengaruhi rantai pasok sektor otomotif dan elektronik Indonesia.
“Kalau sampai konflik ini mengganggu rantai pasok terutama barang-barang otomotif kemudian elektronik. Ini tentunya bisa memberikan tekanan juga pada pabrikan di Indonesia karena sebagian suku cadangnya didatangkan dari Thailand,” terang Bhima kepada detikcom, Kamis (24/7/2025).
Selain itu, jika perang berlanjut, stabilitas ekonomi di ASEAN akan terganggu, yang dapat membuat investor enggan masuk ke kawasan ini.
“Apalagi banyak investor memandang ASEAN termasuk di dalamnya Indonesia, Thailand, Kamboja sebagai negara yang saat ini sebenarnya banyak diuntungkan dengan adanya perang dagang. Dan situasi ini bisa berubah 180 derajat ketika wilayah ASEAN itu didera konflik,” ucapnya.
Baca juga: Pembayaran Non Tunai Perbankan Terus Meningkat
Namun, di sisi lain, Bhima melihat peluang bagi Indonesia untuk menggenjot sektor pariwisata. Mengingat pariwisata adalah salah satu pendorong utama ekonomi Thailand dan Kamboja.
“Jadi Thailand itu tiap tahunnya kedatangan 35 juta orang wisatawan asing. Sementara Kamboja sekitar 6,2 juta wisatawan asing. Ini jadi salah satu peluang asalkan memang promosi wisata kemudian infrastruktur pendukung pariwisatanya itu terus dibenahi,” terang Bhima.


