Marjorie Taylor Greene, anggota Partai Republik di Dewan Perwakilan AS, baru-baru ini mengumumkan pengunduran dirinya dan menyatakan bahwa hari terakhirnya sebagai anggota dewan adalah 5 Januari.
Keputusan ini diambil setelah perselisihan terbuka dengan Presiden AS Donald Trump.
Menanggapi hal tersebut, Trump menyambut baik dan mengatakan bahwa “ini kabar sangat baik bagi negara”.
Greene, tokoh terkemuka gerakan MAGA, sebelumnya menyatakan bahwa mendukung Israel dalam perang adalah pengkhianatan terhadap rakyat Amerika.
Menurut laporan Pars Today, Esam Boraey, analis Mesir dari negara bagian Connecticut, dalam analisisnya di situs jaringan Al Jazeera menulis bahwa pemutusan dukungan Trump terhadap Marjorie Taylor Greene bukan sekadar perselisihan pribadi, melainkan mencerminkan perubahan yang lebih dalam dalam gerakan konservatif Amerika yang dapat menggoyahkan fondasi dukungan tradisional terhadap rezim Zionis.
Boraey menekankan bahwa Israel kini berada di pusat konflik internal Partai Republik.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Partai Republik berdebat apakah dukungan tanpa syarat Washington terhadap Israel benar-benar melayani kepentingan Amerika.
Pertarungan ini sedang mengubah wajah sayap kanan Amerika dan dapat mendefinisikan ulang cara AS berinteraksi dengan Asia Barat.
Bagi negara-negara kawasan, khususnya yang menuntut perdamaian adil bagi Palestina, perpecahan ini merupakan peluang langka untuk berinteraksi dengan lanskap politik Washington yang sedang berubah.
Menurut analis ini, ketika pengaruh Trump mulai menurun, tokoh-tokoh seperti Greene melihat diri mereka sebagai generasi berikutnya dari kepemimpinan nasionalis, dan konflik ini kini sedang membentuk ulang identitas Partai Republik.
Penulis menambahkan bahwa perpecahan Republik terkait Israel bukan hanya perebutan kekuasaan internal, melainkan cerminan dari peninjauan ulang yang lebih luas terhadap peran global Amerika.
Mitos-mitos yang menopang kebijakan luar negeri Washington selama puluhan tahun mulai runtuh.
Boraey menulis, “Bagi Asia Barat, ini adalah momen bersejarah. Konsensus bipartisan yang selama berbagai generasi melindungi Israel kini melemah.
Retakan pertama muncul di dalam Partai Republik, di mana nasionalisme dan skeptisisme terhadap keterlibatan luar negeri sedang mengubah prioritas politik.
Jika bangsa Arab, Muslim, dan pendukung Palestina dapat memahami dan secara cerdas terlibat dengan perubahan ini, mereka dapat mendorong kebijakan Amerika menuju pendekatan yang lebih seimbang dan adil terhadap kawasan.”
Menurutnya, konflik antara gerakan MAGA dan arus utama Amerika mungkin akan menentukan bukan hanya masa depan Partai Republik, tetapi juga masa depan kebijakan luar negeri AS.
Perubahan ini, meski masih pada tahap awal, dapat menjadi awal dari redefinisi hubungan Amerika dengan rezim Zionis dan menciptakan keseimbangan baru dalam dinamika kawasan.


