Al-Quds, Purna Warta – Channel 7 milik rezim Zionis, mengutip Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, melaporkan rencana militer baru untuk Gaza.
Channel 7 Israel. Pada hari Senin, melaporkan bahra Eyal Zamir, Kepala Staf Militer rezim Zionis Israel, mempresentasikan rencana perang baru kepada para pejabat politik, yang oleh sumber-sumber keamanan disebut sebagai “Rencana Pendudukan Gaza.” Rencana ini menyerukan operasi militer yang lebih luas di Jalur Gaza dengan tujuan utama: membebaskan para sandera dan menghancurkan Hamas.
Zamir menekankan bahwa jika negosiasi pembebasan tahanan gagal atau tidak tercapai kesepakatan dengan Hamas dalam kerangka gencatan senjata 60 hari, rencana ini akan dilaksanakan. Fokusnya adalah menguasai wilayah yang lebih luas dari yang saat ini berada di bawah kendali militer Israel.
Kantor Anggota Kongres AS Diserang Akibat Dukungan ke Palestina
Dalam laporan lain Channel 7, kantor Anggota Kongres AS Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) di New York disemprot cat merah pada Senin setelah ia menolak RUU yang akan memotong dana sebesar $500 juta untuk sistem pertahanan Israel.
Di jendela kantornya di Westchester Square, tertulis pesan:
“Komite Olimpiade AS Mendanai Genosida di Gaza.”
Kelompok bernama “Boogie Down Liberation Front” mengklaim bertanggung jawab, menyatakan:
“Kami berdiri bersama rakyat Palestina dan mengecam kemunafikan Komite Olimpiade AS.”
Untuk Pertama Kalinya Sejak Perang Dimulai: Israel Lakukan Manuver Darat di Deir al-Balah
Menurut Channel 7, untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, Brigade Golani melakukan manuver darat di wilayah selatan Deir al-Balah, Gaza, pada Senin. Sebelumnya, militer Israel menghindari operasi di daerah tersebut karena alasan keselamatan para tawanan yang diyakini ditahan di sana. Manuver ini dilakukan setelah serangan udara dan tembakan artileri di zona tersebut.
20 Tahun Setelah Pengusiran: 1.000 Keluarga Tuntut Kembali Menetap di Gaza
Channel 7 melaporkan bahwa sekitar 1.000 keluarga mengirim surat kepada Perdana Menteri dan para menteri Israel pada Senin, menuntut persetujuan segera untuk menetap kembali di perbatasan utara Gaza.
Isi surat tersebut berbunyi:
“Kami, 1.000 keluarga, ingin menetap di Gaza utara—untuk membangun permukiman Yahudi, institusi pendidikan, pabrik industri, dan infrastruktur sipil. Telah 20 tahun sejak pengusiran. Kini saatnya perubahan. Hanya keberadaan sipil dalam jumlah besar yang dapat memulihkan keamanan dan kedaulatan Israel di kawasan ini.”
Mereka menegaskan bahwa wilayah tersebut telah siap untuk pemukiman kembali dan mendesak agar langkah pertama pembangunan permukiman Yahudi segera dilakukan—sebagai awal dari pemukiman seluruh Jalur Gaza.
Fakta Mengkhawatirkan Terkait Situasi Keamanan Israel
Mayor Jenderal (Purn) Isaac Brick mengatakan kepada Channel 7 pada hari Senin:
“Kita hidup di wilayah yang bergolak, dengan perubahan yang cepat dan tak terduga. Meski kita pernah meraih keberhasilan melawan Iran dan Hizbullah, kita tidak bisa berpuas diri. Jika kita tidak menyiapkan militer Israel untuk menghadapi ancaman yang cepat berubah, kita tidak akan siap menghadapi perang berikutnya. Sama seperti kita tidak siap dalam perang ‘Iron Swords’, konflik selanjutnya bisa puluhan kali lebih menyakitkan.”
Ia menambahkan bahwa ini bukan hanya pendapat pribadi, tapi refleksi dari fakta-fakta yang dibagikan oleh para perwira militer senior—dari mayor hingga komandan batalion dan kompi—yang berbicara padanya secara anonim mengenai situasi di lapangan.
“Orang rasional mana pun bisa melihat bahwa kita gagal dalam pertempuran melawan Hamas,” ujarnya, sambil menyebut Hizbullah, Suriah, Iran, perbatasan Yordania, Mesir, dan Tepi Barat sebagai ancaman utama keamanan Israel.


