PBB: Perintah Evakuasi Baru Israel di Gaza Jadi “Pukulan Menghancurkan” Bagi Bantuan Kemanusiaan

Israel news

New York, Purna Warta – Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan bahwa perintah evakuasi baru yang dikeluarkan rezim Israel bagi para pengungsi dan warga di Deir el-Balah, Gaza, untuk pindah ke selatan merupakan “pukulan menghancurkan lainnya” terhadap upaya kemanusiaan di wilayah yang dilanda perang tersebut.

OCHA memperingatkan pada hari Senin dalam sebuah pernyataan bahwa “perintah pengungsian massal yang dikeluarkan hari ini oleh militer Israel telah menjadi pukulan yang menghancurkan bagi jalur kehidupan yang sudah rapuh dan menjadi penopang hidup warga di seluruh Jalur Gaza.”

Pada Minggu pagi, pasukan Israel memerintahkan para pengungsi dan penduduk di Gaza tengah untuk segera meninggalkan wilayah tersebut karena akan dilakukan “operasi besar yang akan segera dimulai.”

Akibatnya, seluruh keluarga Palestina terpaksa mengumpulkan barang-barang mereka secepat mungkin dan meninggalkan wilayah itu.

Menurut perkiraan awal OCHA, antara 50.000 hingga 80.000 orang berlindung di wilayah tersebut saat perintah evakuasi dikeluarkan.

OCHA menyebutkan bahwa staf PBB masih berada di wilayah tersebut, dan koordinat lokasi mereka telah dibagikan kepada pihak-pihak terkait.

“Lokasi-lokasi ini, sebagaimana semua lokasi sipil lainnya, harus dilindungi tanpa memandang adanya perintah pengungsian,” kata OCHA.

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa kerusakan terhadap gudang bantuan, klinik kesehatan, dan infrastruktur air akan mengakibatkan kematian warga sipil yang masih bertahan di wilayah tersebut.

Sejak rezim Israel memulai kampanye genosidanya pada 7 Oktober 2023, hampir seluruh populasi Gaza, yang juga tengah menghadapi kelaparan, telah mengungsi setidaknya satu kali akibat perintah evakuasi berulang dari Israel.

OCHA menyatakan bahwa perintah terbaru ini membuat 87,8 persen wilayah Gaza kini berada di bawah perintah pengungsian atau dalam zona militer Israel.

Itu berarti “2,1 juta warga sipil terdesak di wilayah yang terfragmentasi hanya sebesar 12 persen dari Jalur Gaza, di mana layanan-layanan esensial telah runtuh,” tegas badan PBB tersebut.

“[Perintah ini] akan membatasi kemampuan PBB dan mitra-mitranya untuk bergerak secara aman dan efektif di dalam Gaza, sekaligus mencekik akses kemanusiaan di saat yang paling dibutuhkan,” tambahnya.

Pada hari Minggu, Israel juga mencabut izin tinggal Jonathan Whittall, kepala kantor OCHA di Palestina yang diduduki.

Whittall dikenal sebagai kritikus vokal terhadap aksi genosida rezim Israel dan telah mengutuk kondisi kemanusiaan di Gaza.

Sejak Israel memulai perangnya terhadap Gaza, sebanyak 58.895 warga Palestina telah dibunuh dan 140.980 lainnya terluka, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *