Al-Quds, Purna Warta – Yair Lapid, ketua oposisi rezim Zionis, bereaksi keras terhadap kehadiran Benjamin Netanyahu di Pengadilan Distrik Tel Aviv serta pertemuannya dengan Ketua DPR Paraguay di lokasi pengadilan tersebut. Lapid menegaskan bahwa Netanyahu telah menjadi noda dan aib bagi citra Israel di tingkat global.
Baca juga: Berlanjutnya Konflik Soal Komite Investigasi di Rezim Zionis, Protes Terus Berlangsung
Kritik tajam ini muncul setelah Amir Ohana, Ketua Knesset (parlemen rezim Zionis), dalam sebuah langkah kontroversial, membawa Raúl Latorre untuk bertemu Netanyahu di dalam gedung pengadilan pusat Tel Aviv, tempat Netanyahu tengah menjalani persidangan atas tuduhan korupsi.
Sebelum sidang dimulai, para hakim Pengadilan Distrik Tel Aviv menolak permintaan Netanyahu untuk dibebaskan dari kehadiran pada sidang hari Senin dengan alasan adanya pertemuan dengan pejabat asing. Namun, pengadilan hanya menyetujui pengurangan durasi kehadirannya di persidangan.
Video yang beredar di media menunjukkan Netanyahu berjabat tangan dengan Ketua DPR Paraguay di dalam kompleks pengadilan.
Perdana Menteri rezim Zionis itu menghadapi tuduhan korupsi dalam tiga perkara, yang jika terbukti bersalah dapat berujung pada hukuman penjara. Netanyahu juga telah mengajukan permohonan grasi kepada Presiden rezim Zionis Isaac Herzog, namun hingga kini belum menerima jawaban.
Dalam unggahannya di platform X, Lapid menulis:
“Alih-alih membawa Ketua Parlemen Paraguay ke Nir Oz (kota dekat Jalur Gaza yang menjadi sasaran serangan pada 7 Oktober), mereka justru membawanya ke ruang sidang pengadilan… Ini adalah sebuah aib.”
Ia menambahkan:
“Ketika saya mengatakan bahwa Ohana adalah ketua setengah dari Knesset, ia merasa tersinggung. Namun inilah sebenarnya makna menjadi ketua setengah Knesset. Mengapa dia (Latorre) diseret ke dalam persidangan perdana menteri?”
Lapid menegaskan kembali:
“Netanyahu telah menjadi aib bagi Israel di seluruh dunia.”
Benjamin Netanyahu saat ini sedang menjalani persidangan atas tuduhan korupsi di pengadilan Tel Aviv, dengan sidang yang digelar secara rutin dan mingguan.
Tuduhan terhadapnya mencakup tiga kasus korupsi besar yang dikenal sebagai Perkara 1000, 2000, dan 4000, yang meliputi penerimaan suap, penyalahgunaan kepercayaan publik, serta kolusi dengan media. Dalam salah satu sidang terbaru, pengadilan menelaah dugaan penerimaan hadiah dan suap.
Apabila tuduhan-tuduhan tersebut terbukti, Netanyahu berpotensi dijatuhi hukuman penjara. Ia menjadi perdana menteri pertama dalam sejarah rezim Zionis yang diadili atas tuduhan korupsi saat masih menjabat.
Meski demikian, Netanyahu terus membantah seluruh tuduhan dan telah mengajukan permohonan grasi kepada presiden rezim, yang hingga kini belum dikabulkan. Dalam upaya memperoleh grasi tersebut, Netanyahu bahkan dilaporkan meminta bantuan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, namun sejauh ini upaya tersebut belum membuahkan hasil.


