Al-Quds, Purna Warta – Otoritas lokal di Jalur Gaza menyatakan bahwa seorang jurnalis foto Palestina tewas akibat serangan Israel di wilayah pesisir yang terkepung itu, dalam serangan terbaru yang menargetkan para jurnalis sejak rezim pendudukan Tel Aviv melancarkan perang total di sana.
Para pejabat mengatakan Osama Ahmed Balousha kehilangan nyawanya dalam serangan yang menghantam rumah keluarganya di lingkungan Sheikh Radwan, Kota Gaza, pada Senin (8 September 2025) dini hari.
Kematian terbaru ini menjadikan jumlah jurnalis yang terbunuh di Gaza sejak Oktober 2023 meningkat menjadi 250 orang.
Pada 25 Agustus, lima jurnalis tewas akibat serangan Israel di Kompleks Medis Nasser di Gaza selatan.
Di antara korban terdapat fotografer Al Jazeera Mohammad Salama, jurnalis foto Reuters Hussam al-Masri, Mariam Abu Daqqa yang bekerja untuk beberapa media termasuk The Independent Arabic dan Associated Press, serta jurnalis Moaz Abu Taha.
Kementerian Kesehatan Gaza saat itu mengatakan para korban tewas di lantai empat rumah sakit dalam sebuah “double-tap strike” — sebuah rudal pertama menghantam lokasi, lalu beberapa saat kemudian rudal kedua menghantam kembali saat tim penyelamat bergegas menolong korban.
Awal bulan lalu, serangan udara Israel menewaskan enam jurnalis, termasuk jurnalis Al Jazeera Anas al-Sharif. Para jurnalis tersebut tengah berlindung di tenda yang dikhususkan bagi pekerja media di luar Rumah Sakit al-Shifa, Kota Gaza. Laporan menyebutkan bahwa serangan Israel itu secara khusus menargetkan al-Sharif.
Sementara Israel terus melarang jurnalis asing masuk ke Gaza, para jurnalis Palestina tetap menjadi satu-satunya sumber langsung pemberitaan dari dalam zona konflik.
Federasi Kantor Berita Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga menyatakan keprihatinan mendalam atas pembunuhan beruntun jurnalis Palestina oleh pasukan Israel. Federasi menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi di Gaza merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum dan standar internasional, sejalan dengan pelanggaran Israel terhadap kebebasan pers dan media, serta strateginya dalam menekan kebenaran, membungkam perbedaan pendapat, menutupi pelanggaran hariannya, dan menghalangi penyebarannya kepada publik dunia.
Sejak 7 Oktober 2023, rezim Israel telah membunuh sedikitnya 64.455 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, di Jalur Gaza.


