Gaza, Purna Warta – Gerakan perlawanan Hamas mengumumkan bahwa mereka telah setuju untuk membebaskan 10 tawanan Israel, seraya menyatakan harapan bahwa langkah ini akan mempercepat tercapainya kesepakatan gencatan senjata menyeluruh guna mengakhiri perang genosida yang dilancarkan oleh rezim Israel sejak Oktober 2023 terhadap Jalur Gaza.
Baca juga: Pasukan Israel Pindahkan Kepala Biro Palestina al-Mayadeen ke Penjara Ofer yang Terkenal Kejam
Dalam pernyataan pada Rabu, Hamas menyatakan bahwa pimpinan gerakan tengah melakukan “upaya intensif dan bertanggung jawab” untuk menyukseskan perundingan gencatan senjata tidak langsung.
Hamas menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen untuk mencapai kesepakatan yang dapat menghentikan serangan Israel, memastikan bantuan kemanusiaan masuk dengan bebas, dan meringankan kondisi kemanusiaan yang sangat parah akibat kombinasi dari genosida dan blokade total Israel terhadap wilayah pesisir tersebut.
“Gerakan ini telah menunjukkan fleksibilitas yang diperlukan dan setuju untuk membebaskan 10 tawanan,” demikian bunyi pernyataan tersebut, seraya menambahkan bahwa Hamas akan terus bekerja sama dengan para mediator “dengan tekun dan semangat positif” untuk mengatasi hambatan.
Namun, Hamas juga menekankan bahwa sejumlah poin penting masih menjadi perdebatan.
Yang paling utama adalah:
Jaminan gencatan senjata permanen,
Penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Gaza, dan
Distribusi bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
“Meskipun perundingan atas isu-isu ini sangat sulit karena sikap keras kepala pendudukan, kami terus bekerja tanpa lelah demi mengakhiri penderitaan rakyat kami dan mewujudkan harapan mereka akan kebebasan, keamanan, dan kehidupan yang bermartabat,” tutup pernyataan tersebut.
AS Optimis Gencatan Senjata Bisa Dicapai
Pengumuman ini muncul setelah Amerika Serikat menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan.
Steven Witkoff, utusan khusus AS untuk kawasan Asia Barat, pada Selasa mengatakan bahwa ia berharap kedua pihak dapat mencapai kesepakatan sebelum akhir pekan yang akan memungkinkan gencatan senjata selama 60 hari.
Witkoff menyebut bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan akan mencakup pembebasan hingga 10 tawanan Israel yang masih hidup, beserta jenazah dari sembilan lainnya.
Namun, ia tidak menjelaskan langkah nyata apa yang akan diambil untuk menanggulangi penderitaan rakyat Palestina di Gaza, yang telah mengalami genosida selama hampir 21 bulan, menewaskan hampir 57.700 orang—sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Pertemuan Trump dan Netanyahu di Tengah Kritik Internasional
Komentar Witkoff muncul setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin di Gedung Putih. Trump dijadwalkan bertemu Netanyahu lagi pada hari Selasa, dengan Gaza disebut menjadi topik utama dalam agenda mereka.
Upaya menuju gencatan senjata telah berulang kali gagal. Gencatan senjata yang diberlakukan pada Januari kandas pada pertengahan Maret, setelah pasukan Israel tidak hanya melanjutkan, tapi justru meningkatkan serangan ke wilayah Gaza.
Baca juga: Bagaiman Nasib Dolar?
Israel Dinilai Tak Ingin Damai
Laporan dari pejabat Israel dan Palestina menyebutkan bahwa Netanyahu sengaja menghambat tercapainya gencatan senjata permanen, karena melihat lanjutan operasi militer sebagai keuntungan politik baginya.
Mantan kepala badan intelijen Shin Bet, Ronen Bar, bersama pejabat Israel lainnya mengakui bahwa memperpanjang perang dapat membantu Netanyahu mempertahankan kekuasaan.
Netanyahu berdalih bahwa genosida adalah satu-satunya cara untuk membebaskan tawanan Israel yang masih berada di Gaza.
Namun, Hamas menyatakan bahwa banyak dari tawanan tersebut tewas akibat serangan udara Israel sendiri—menyangkal klaim Netanyahu. Surat kabar Israel Haaretz bahkan mengungkapkan bahwa sedikitnya 20 tawanan tewas akibat tindakan militer Israel sejak perang dimulai.
Latar Belakang: Janji AS yang Tak Terpenuhi
Pada bulan Mei lalu, Hamas membebaskan tentara Israel-Amerika, Edan Alexander, yang sempat membangkitkan harapan penyelesaian krisis.
Namun, menurut Hamas, Witkoff sempat berjanji bahwa AS akan menekan Israel untuk mengakhiri blokade dan membuka akses bantuan kemanusiaan dalam waktu dua hari setelah pembebasan Alexander. Tapi hingga kini, janji itu tak juga terealisasi.
Selain tidak menekan Israel untuk menghentikan genosida, Washington justru terus memberikan dukungan militer miliaran dolar serta melindungi Tel Aviv dari sanksi dan resolusi hukuman di PBB.


