Bangkok, Purna Warta – Ketegangan kian meningkat di pulau-pulau wisata selatan Thailand seiring tumbuhnya rasa frustrasi masyarakat lokal atas perilaku yang dinilai menghina dan kontroversial, serta aktivitas bisnis ilegal oleh wisatawan Israel, yang jumlah kunjungannya ke Thailand meningkat tajam.
Baca juga: Drone Bertenaga AI yang Digunakan Dalam Genosida di Gaza kini Memantau Kota-Kota di AS
Menurut laporan Arab News edisi Minggu, para pemilik restoran dan pelaku usaha di Koh Phangan — salah satu tujuan wisata paling populer di Thailand — menyebut adanya lonjakan perilaku tidak tertib dan usaha komersial tanpa izin oleh pengunjung Israel.
Warga Thailand yang merasa dirugikan menyatakan bahwa perkembangan tersebut telah memicu keresahan masyarakat dan merusak iklim keramahtamahan lokal.
Laporan itu mengutip pemilik sebuah restoran Thailand di pulau tersebut yang mengatakan bahwa insiden berulang dari perilaku tidak hormat yang ditunjukkan pelanggan Israel membuatnya mengambil keputusan untuk melarang mereka memasuki restorannya.
“Setelah saya meminta sekelompok turis Israel pergi, saya menerima lebih dari 4.000 ulasan buruk — rating restoran saya turun dari 4,8 menjadi 2,2 bintang. Sekarang sudah pulih, tetapi pengalaman itu sangat menjengkelkan,” ujarnya.
Restoran tersebut kini menampilkan papan bertuliskan “No Israel”. “Saya muak dengan pola perilaku yang terus berulang dari banyak turis Israel — hal itu terjadi begitu sering sampai membuat saya memasang tanda ‘No Israel’ di restoran saya,” kata pemilik itu.
Video-video yang dibagikan di media sosial Thailand dalam beberapa bulan terakhir memperlihatkan konfrontasi serupa antara warga lokal dan pengunjung Israel.
Dalam salah satu kasus viral pada Mei, seorang pegawai restoran di Koh Phangan terdengar mengatakan kepada seorang perempuan Israel, “Kamu tidak diterima di sini,” yang dijawab perempuan itu, “Uang saya membangun negara kalian.”
Di luar keluhan soal kurangnya rasa hormat, para pelaku usaha Thailand juga menyampaikan keprihatinan atas pengoperasian usaha tanpa izin oleh warga Israel di pulau-pulau tersebut, termasuk restoran, operator tur, dan jasa persewaan, yang merupakan pelanggaran hukum Thailand.
Sekelompok pelaku usaha dan warga lokal baru-baru ini menyerahkan petisi yang ditandatangani lebih dari 200 orang kepada gubernur Provinsi Surat Thani di Thailand selatan, mendesak pihak berwenang menindak “aktivitas warga Israel yang menimbulkan keresahan bagi masyarakat setempat”.
Apiwat Sriwatcharaporn, wakil kepala desa di Koh Phangan, mengakui meningkatnya kekhawatiran tersebut. “Jika mereka hanya tinggal atau berwisata di sini, itu tidak masalah,” ujarnya. “Namun aktivitas usaha harus dilakukan secara legal.”
Menurut Biro Imigrasi Thailand, sebanyak 2.627 pendatang Israel mengajukan perpanjangan visa di Koh Phangan hingga akhir September, menjadikan mereka kelompok asing terbesar yang sedang diselidiki terkait potensi aktivitas komersial ilegal.
Seorang pelaku usaha lokal lama juga menuturkan bahwa ketegangan meningkat seiring bertambahnya jumlah turis Israel.
“Mereka memiliki karakteristik yang sangat khas sebagai pelanggan, seperti menawar secara agresif atau sangat menuntut,” ujarnya.
“Sebelumnya mereka biasanya datang sendirian, tetapi sekarang kita melihat mereka datang bersama keluarga. Itu membuat komunitas Israel di pulau ini jauh lebih besar, dan juga memperkuat frustrasi masyarakat terhadap mereka.”
Para pengamat mencatat bahwa lonjakan kedatangan ini semakin memicu kemarahan sejak dimulainya perang genosida rezim Israel terhadap Jalur Gaza pada Oktober 2023.
Dr. Manoch Aree, dosen ilmu politik di Universitas Srinakharinwirot, universitas negeri di Bangkok, mengatakan bahwa sejak dimulainya genosida tersebut, Israel semakin memilih Thailand sebagai destinasi wisata.
Ia menilai tren itu dipicu oleh lingkungan politik Thailand yang selama ini cenderung apolitis serta minimnya sentimen anti-Israel sebelumnya.
Genosida tersebut memicu gelombang kecaman global dan aksi protes anti-Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Seorang tentara Israel yang terlibat dalam perang genosida terhadap warga Palestina di Gaza dilaporkan diserang di Thailand pada Desember lalu.
Prajurit berusia 22 tahun yang diidentifikasi bernama Ilay itu sedang berlibur ke Thailand ketika ia diserang wisatawan asal Jerman yang tidak teridentifikasi, menurut laporan media Palestina saat itu.
Kelompok advokasi hukum telah mengajukan banyak gugatan terhadap prajurit tersebut, menuntut agar mereka ditahan dan dituntut di negara-negara yang mereka kunjungi.
Kelompok aksi langsung juga menargetkan perusahaan luar negeri yang berkontribusi terhadap kompleks militer-industrial Israel.
Dr. Aree mengatakan bahwa warga Thailand kini mengeluhkan eksploitasi terhadap keterbukaan negara tersebut.
Ia mencatat adanya laporan soal sekolah yang dijalankan warga Israel, pusat keagamaan, dan program rehabilitasi untuk prajurit yang beroperasi secara pribadi tanpa transparansi.
“Hal ini memunculkan kekhawatiran di kalangan warga tentang mengapa mereka berada di sini dan apa yang mereka lakukan,” ujarnya. “Niat pemerintah untuk meningkatkan pariwisata justru menjadi bumerang, menimbulkan konsekuensi negatif yang tidak diinginkan.”


